ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA : Pengantin Muncul dari Keben, Sultan dari Pagelaran

JIBI/Desi SuryantoKereta kuda Kanjeng Kyai Wimono Putro yang ditarik delapan ekor kuda diujicoba berjalan menuju Komplek Kepatihan Yogyakarta dengan melawan arus melalui Jalan Malioboro Yogyakarta dilaksanakan pada Jumat (11/10 - 2013). Sebaanyak 12 kereta kuda akan digunakan dalam kirab Royal Wedding Keraton Ngayogyakarta GKR Hayu dengan KPH Notonegoro yang akan digelar 22 Oktober 2013 mendatang.
12 Oktober 2013 09:00 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com-Sebanyak 12 Kereta Kraton yang digunakan pada resepsi Pernikahan Agung 23 Oktober keluar dari Museum Kraton untuk diuji coba.

“Halo om...halo pakde,” begitu segerombolan anak kecil saling bersahutan ketika Kereta Kanjeng Kiai Jongwiyat melintas di depan Museum Kereta Kraton di Jalan Rotowijayan. Dalam skenario latihan kirab Dhaup Ageng, kereta sore itu baru saja menjemput GKR Hayu dan KPH Notonegero di Kraton Keben, yang lokasinya berada di balik Pagelaran Kraton.

Anak- anak itu menyapa pamannya yang belakangan diketahui bernama Agus Prasetyo. Agus didapuk menjadi kusir kereta temanten itu. Pria berusia 45 tahun itu adalah adik Widodo, kusir kereta Kanjeng Kiai Wimono Putro, kereta yang bakal dinaiki Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisurinya, GKR Hemas.

Duduk di antara anak kecil itu nenek- nenek berusia 77 tahun. Ia adalah ibu Agus. Mengambil nama almarhum suaminya abdi dalem Kuda Kraton, nenek itu cukup meminta dipanggil Kudo Wijoyo. Melihat anaknya berada di kereta menjadi kusir, Kudo nampak senang. Senyumnya mengembang ketika anak- anak itu menyapa anaknya.

“Mangga-mangga,” ujar Agus lirih membalas sapaan anak-anak kecil.

Wajahnya pun menoleh. Sorot matanya memandang ibunya yang duduk jongkok seolah memberikan salam hormat. Gerak empat pasang kuda yang menggoyangkan kereta memaksanya untuk membalikan wajahnya ke depan. Agus lalu melambaikan pecut yang digenggam di tangan kanannya ke arah kuda itu.

Dibantu para abdi dalem pengawal kuda, kereta terus berjalan ke Alun-alun Utara untuk menuju Bangsal Kepatihan, tempat resepsi Pernikahan Ageng pada 23 Oktober mendatang. Tidak semudah yang dibayangkan kuda-kuda itu diarahkan.
Sesakali kuda yang dirangkai berpasangan itu berontak. Warga yang menonton terlihat waswas. Sejumlah kelompok pengamanan swakarsa nantinya akan terlibat membuat “pagar hidup” untuk mengamankan jalan dari melubernya penonton ke jalan.

Sore itu, 12 kereta Kraton yang akan digunakan untuk pernikahan tersebut keluar dari museum. Sesuai dengan rute pada hari pelaksanaan nanti, lima kereta yang telah dirangkai dengan kuda diarak menuju Kraton Keben untuk menjemput temanten, utusan dalem, dan para penari.

Tujuh kereta lainnya menjemput Sultan beserta permaisuri dan putri- putrinya di Pagelaran Kraton. Di pagelaran, kereta juga menjemput rombongan Sri Paduka Paku Alam IX dan Putra Mahkotanya.

Kereta Temanten lebih dulu berangkat ke Bangsal Kepatihan (melawan arah Malioboro) baru disusul dengan kereta rombongan Sultan dan Paku Alam IX.

Mulai pernikahan GKR Bendara pada Oktober 2011 lalu, Bangsal Kepatihan dipilih menjadi tempat resepsi. Saat itu bertepatan pula dengan belum disahkannya Undang- Undang Keistimewaan DIY. Dhaup Ageng itu setidaknya dapat menunjukan eksistensi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Adapun berdasarkan sejarahnya, Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat mengisahkan Bangsal Kepatihan dulu merupakan tempat mahapatih atau perdana menteri Kraton bertugas.

Bangsal menjadi tempat digelarnya acara perhelatan pernikahan setelah dilakukan ijab pernikahan di Kraton. “Namun dulu yang menjamu tamu dari Belanda bukan Sultan langsung, tetapi pepatih dalem itu,” ujar Yudha.

“Semenjak Bendara, Ngarso Dalem ingin mengembalikan tradisi itu,” ujar GKR Hayu kepada wartawan di kediamannya di Kraton Kilen.

Menurut Hayu, tradisi itu bukanlah bernama kirab, namun hanya sekadar arak-arakan mengantar temanten ke Bangsal Kepatihan. Sebab, kalau kirab itu hanya dilakukan pada putra sulung. Saat itu, GKR Pembayun dulu menikah dengan KPH Notonegero, kakaknya tersebut diarak mengelilingi Beteng Kraton.

“Anak pertama adalah istimewa sehingga dikirab untuk mengenalkan ke masyarakat juga,” ujar Hayu.

Menurut putri keempat Sultan itu, Kereta Jongwiyat sudah menjadi paket lima kereta temanten. Sehingga bukan pilihannya. Kereta jenis landower itu dulu digunakan oleh HB VIII sebagai kereta plesiran sebelum dipesannya kereta Jetayu. Kereta itu juga digunakan HB VIII untuk melihat pacuan kuda.

Menjadi kebiasaan setelah dipakai GKR Bendara, menurut Hayu, kereta tersebut sekarang difungsikan menjadi kereta manten. “Karena yang dipamerin itu mantennya, jadi kereta yang dipilih adalah kereta terbuka,” ujarnya.

Kereta itu sebelumnya telah dicat ulang, namun menurut Yudha, yang tak lain paman Hayu, kereta itu rencananya akan kembali direnovasi karena ternyata joknya yang sobek perlu diperbaiki agar tidak melebar.

Sri Sultan Hamengku Buwono X kembali mengulang 12 kereta itu dikeluarkan dari museum karena kali ini adalah pernikahan putrinya yang terakhir. Belajar pengalaman dari penyelenggaraan pernikahan Bendara saat itu, Dhaup Ageng itu mampu menjadi magnet wisatawan. “Untuk promosi wisata saja kok,” ujarnya.