Udara Jogja Tidak Sehat, Warga Diimbau Kurangi Bepergian

YOGYAKARTA MASIH DISELIMUTI ABURibuan rumah di kawasan Sungai Code, Yogyakarta, Sabtu ( 15/12) diselimuti abu vulkanik menyusul letusan Gunung Kelud. ANTARA FOTO - Andreas Fitri Atmoko
19 Februari 2014 11:11 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Warga diimbau kurangi bepergian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyusul http://www.harianjogja.com/baca/2014/02/19/awas-udara-jogja-tidak-sehat-490682" target="_blank">kondisi udara yang tidak sehat akibat abu vulkanik masih bertebaran.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan Penanganan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah DIY Daryanto Chadorie, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (18/2/2014).

Ia meminta agar warga mengurangi berpergian. Ketika menggunakan sepeda motor, wajib menggunakan masker, kacamata dan baju lengan panjang, serta sarung tangan agar terhindar dari penyakit tersebut.

Selain kewaspadaan dari kualitas udara, ia juga mengimbau warga agar melakukan penjernihan sumur. Sebab, sama dengan abu vulkanik Merapi, abu Gunung Kelud juga terdapat kadar besinya, sehingga bisa menyebabkan diare.

“Penjernihan dapat dilakukan dengan memberi tawas atau PAC [Poly Alumunium Chloride],” ujarnya.

Sementara itu, kelompok masyarakat dari Arsitek Komunikasi (Arkom) mengingatkan agar warga tidak membuat abu vulkanik itu ke got, dranainase, karena dapat menyebabkan saluran air meluap.

Mereka mengingatkan dengan melakukan aksi membagikan 4.000 karung di titik nol dan Gejayan.

Imam Yudi, Koordinator Arkom menghitung jika ketebalan abu vulkanik itu 1 centimer berada di jalan dengan lebar 8 meter dan panjang jalan kota 221 kilometer kira-kira ada 17.680 meter kubik abu.

Jika setengahnya saja disemprot. Ada 8.840 meter kubik abu yang masuk ke got. “Kami tengah melakukan pengujian, bahwa abu itu ketika dicampur pasir dengan komposisi yang pas dapat menjadi bahan bangunan sekuat batu bata,” terangnya.