Petani Ikan di Sleman Merugi

Espos/Hanifah KusumastutiBERI MAKAN--Seorang petani ikan, Sapardi tengah memberi makan ikan lele yang berumur sekitar tiga pekan di kolam ikan miliknya, di Desa Ngesrep, Ngemplak, Boyolali, Rabu (18/8 - 2010).
20 Februari 2014 16:45 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Hujan abu vulkanik letusan Gunung Kelud yang mengguyur wilayah DIY,  membuat sejumlah petani ikan merugi. Akibat paparan debu, ikan menjadi stres dan nafsu makan menurun.

“Dampak langsungnya hanya nafsu makan turun, tidak sampai mati,” kata Susanto, Ketua Kelompok Petani Ikan Mina Taruna di Dusun Garongan, Desa Girikerto, Kecamatan Turi.

“Kami biarkan dulu sampai ada pengendapan. Baru nanti nafsu makan ikan bertambah,” lanjut Susanto.

Kondisi serupa juga di kawasan pasar ikan Mino Mulyo di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok. Meski jumlahnya tidak banyak, terdapat beberapa ikan mati akibat terpapar abu vulkanik.

“Kemarin waktu hujan abu, nafsu makan memang berkurang, malah tidak mau makan sama sekali,” ungkap salah satu petani, Tumiasih, saat ditemui Rabu (19/2/2014).

Tumiasih mengaku ikan-ikan di kolamnya kehilangan nafsu makan hingga hari kedua pascahujan abu. Saat terjadi hujan pada Minggu (16/2/2014), ikan-ikan juga melompat-lompat, bahkan ada yang sampai keluar kolam.
“Mungkin karena merasa perih kena abu dari atas atap yang jatuh ke kolam. Jadi makin stres,” papar Tumiasih.
Hingga kini, dia mengatakan ikan-ikan masih dalam keadaan stres. Meski sudah mau makan, tapi belum maksimal.

Sebagai upaya mengurangi stres pada ikan yang dia budidayakan, Tumiasih menggunakan alat yang dia sebut blower untuk memperlancar sirkulasi udara di dalam air kolam. “Blower harus dihidupkan terus biar ada angin tambahan,” kata Tumiasih.

Dampak abu vulkanik tidak hanya sebatas pada pengurangan nafsu makan saja. Susanto mengatakan, kelompoknya tidak bisa melakukan pemijahan ikan selain jenis nila. Masalah pemasaran pun terganggu. “Masalah pemasaran, otomatis kami rugi karena daerah lain juga terdampak abu,” ucapnya.

Padahal dalam kondisi normal, pasar di ikan di Garongan yang buka setiap Sabtu dan Minggu bisa menjual satu hingga satu setengah ton bibit ikan maupun ikan konsumsi. “Kemarin sepi sekali,” keluh Susanto.

Dia mengungkapkan kerugian yang ditanggung mencapai Rp18 juta.  Sementara Tumiasih juga merugi karena banyak ikan kecil yang terserang jamur sehingga tidak laku dijual.