Advertisement

Buruh Tani di Gunungkidul Belum Diperhatikan

Kusnul Isti Qomah
Kamis, 10 April 2014 - 13:59 WIB
Nina Atmasari
Buruh Tani di Gunungkidul Belum Diperhatikan

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Bantuan bibit yang disalurkan pemerintah kepada petani masih belum bisa dirasakan semua warga, terutama buruh tani. Mereka hanya mampu menjadi pekerja lantaran tidak memiliki lahan.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Saido, menuturkan hanya petani-petani yang memiliki lahan yang bisa merasakan bantuan tersebut. Warga yang kurang mampu dan tidak memiliki lahan tidak bisa merasakan bantuan.

Advertisement

“Mau ditanam di mana? Lahan saja tidak punya. Rata-rata mereka [warga kurang mampu] mengeluh seperti itu,” tuturnya di Purwodadi, baru-baru ini.

Saido mencatat hampir seluruh masyarakat Purwodadi merupakan petani. Ada sekitar 4.000 penduduk Purwodadi dan kurang lebih 100 warga di antaranya merupakan buruh tani yang tidak memiliki lahan.

Daerah yang kondisinya memprihatinkan seperti Dusun Wuluh, Danggolo, Pakel Asem, Luweng Ombo, Sambi, Sureng I, Jatiwinangun, Kotekan dan Ngande-Ande. Warga di dusun-dusun itu jarang tersentuh bantuan.

“Mereka [buruh tani] tidak bisa masuk kelompok tani karena tidak memiliki lahan. Kalaupun masuk, mereka tidak bisa dapat bantuan karena tidak punya lahan,” ucap Saido.

Biasanya, warga yang menjadi buruh tani diberi imbalan boleh menggarap gunung untuk diolah sendiri. Jika tidak, mereka akan dibayar dengan uang. Biasanya sehari diupah Rp20.000. “Serba susah. Boleh menggarap gunung, mereka juga susah untuk mengolah karena tidak mampu membeli pupuk,” papar Saido.

Warga Dusun Wuluh, Desa Purwodadi, Satiyem mengaku tidak memiliki lahan sendiri untuk diolah. Ia pun mengandalkan hasil dari menjadi buruh tani. Setiap kali memburuh ia dibayar Rp20.000 sampai Rp25.000 setiap harinya. Namun, ia sudah beberapa bulan ini tidak bekerja karena petani sudah mengolah tanahnya sendiri.

Satiyem mengaku menjadi anggota kelompok tani di dusunnya. Namun, setiap ada bantuan dari pemerintah, ia tidak bisa merasakan karena tidak memiliki lahan sendiri. “Saya menanami halaman rumah saya dengan benguk,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja
Gebyar Mualaf 2024 Digelar di Sleman

Gebyar Mualaf 2024 Digelar di Sleman

Jogjapolitan | 3 hours ago

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kaesang dan Erina Habiskan Akhir Pekan dengan Mengunjungi PRJ

News
| Minggu, 14 Juli 2024, 17:47 WIB

Advertisement

alt

Bogor Punya Banyak Wisata Alam yang Layak Dikunjungi, Ini Daftarnya

Wisata
| Sabtu, 13 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement