Advertisement
Kisah Juru Irigasi, Turun ke Gorong-gorong dan Pastikan Air Terbagi Adil
Advertisement
Kisah juru irigasi di Bantul ini menggugah semangat orang yang membacanya, bahwa bekerja sungguh-sungguh, selain kepuasan batin juga bisa mendapatkan penghargaan
Harianjogja.com, BANTUL- Wiwit Pramono dinobatkan sebagai juru irigasi teladan se-Indonesia berkat kegigihannya menjaga pengairan di Bantul. Bagaimana sepak terjang bapak dua anak itu?
Advertisement
Kulitnya legam dibakar terik matahari, pandangan matanya tajam. Sehari-hari ia mengenakan sepatu boot, berbaju kaus, dan rajin menjelajahi berbagai bendungan dan saluran air yang tersebar di Kecamatan Banguntapan, Piyungan serta Pleret Bantul.
Ia mengawasi 11 bendungan air di tiga wilayah kekuasaannya. Penampilannya tak seperti pegawai negeri sipil (PNS) yang berpakaian dinas dan identik bekerja di kantoran.
Wiwit Pramono, lelaki 42 tahun yang baru saja menggondol prestasi skala nasional berkat kegigihannya menjaga pengairan di Bantul. Penghargaan sebagai juru irigasi teladan itu diberikan Kementerian Pekerjaan Umum awal Desember lalu.
Selasa (23/12/2014) siang itu, Wiwit tengah sibuk memantau pengerukan sampah yang menyumbat bendungan Ketonggo Bibis di Desa Wonokromo, Pleret yang dilintasi sungai Belik.
“Ini bendungan gerak, yaitu bendungan yang ada pintunya enggak cuma dilimpasi air. Kalau banjir pintu air harus ditutup supaya tidak banjir dan sampah dibersihkan,” tutur bapak dua anak itu menjelaskan fungsi bendungan gerak yang hari itu menjadi target kerjanya.
Memastikan 710 hektare lahan pertanian teraliri air adalah tugasnya. Termasuk memastikan air sungai tidak membanjiri permukiman warga.
Saat musim hujan seperti sekarang, lelaki lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) itu kebanjiran pekerjaan. Ia harus menyambangi satu per satu bendungan dan membersihkannya dari sampah agar air tak meluap ke permukiman penduduk.
Pekerjaan itu ia lakoni tak kenal waktu dan tak kenal batas. Pernah suatu kali, ia harus berjibaku dengan air setinggi leher di dalam gorong-gorong yang tersumbat batang pisang sehingga menyebabkan banjir, atau berdialog dengan warga hingga dini hari untuk memastikan pembagian air irigasi berjalan dengan adil.
“Tugas saya memang mengawasi tapi kenyatannya juga turun langsung bekerja misalnya membersihkan bendungan, atau gorong-gorong yang tersumbat sampah,” ujar suami dari Kadarumi itu.
Pekerjaan itu ia lakoni sejak 1997 saat masih menjadi pekerja harian pembersih saluran bendungan di Bantul. Berkat kerja kerasnya, pada 2008 ia diangkat menjadi PNS.
Lalu pada 2010 ia dipercaya Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Bantul sebagai juru irigasi yang bertugas di Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Opak Hulu.
Kantornya terletak di Dusun Gandok, Desa Bangunharjo, Sewon, Bantul. Ia rata-rata hanya setengah jam menghabiskan waktu di kantor dalam sehari. Sisanya dihabiskan di lapangan di bawah terik matahari.
“Saya dari dulu sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Semangatnya karena dari dulu saya ingin bekerja yang bermanfaat untuk orang lain,” lanjut warga Sendangtrito, Berbah, Sleman itu.
Semangat berteman dengan banyak orang juga mendorong Wiwit untuk tidak bosan dengan tugasnya. Setiap hari, ia menyambangi berbagai kelompok tani pengguna air. Menanyakan kebutuhan air dan kadang ikut terseret konflik perebutan air.
“Kalau konflik itu banyak sekali karena rebutan air, tapi untung baru sebatas marah belum sampai gelut,” kata dia seraya tertawa.
Lelaki bertubuh kecil itu mengaku senang bisa mengenal watak banyak orang yang ia temui berkat pertemannya dengan berbagai petani pengguna air. Mengenal ragam watak mengajarkannya untuk selalu memahami orang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement





