UNGGAS MATI MENDADAK : Diduga Flu Burung

Petugas PDSR Diskepenak Kulonprogo dan warga menyemprot disinfektan pada bungkusan bangkai burung puyuh yang akan diujikan ke laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVET). (JIBI/Harian Jogja - Holy Kartika N.S.)
07 Januari 2015 13:20 WIB Kulonprogo Share :

Unggas mati mendadak yang terjadi peternakan burung puyuh di Dusun Sedan, Kulonprogo diduga terinfeksi virus burung.

Harianjogja.com, KULONPROGO – Ribuan ekor burung puyuh yang mati mendadak di Dusun Sedan, Desa Sidorejo, Lendah diduga terinfeksi virus H5N1 atau Avian Influenza (AI). Dugaan tersebut baru berdasarkan tanda-tanda fisik dan pemeriksaan secara klinis oleh Bidang Kesehatan Hewan Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Diskepenak) Kulonprogo.

Usai mendapatkan informasi, dinas langsung menerjunkan petugas Participatory Disease Surveillance Response (PDSR) dan melakukan rapid test. Menurut Petugas PDSR Diskepenak Kulonprogo Ambar Widuri mengatakan, sampai saat ini sudah ada lebih dari 3.600 ekor burung puyuh yang mati. Berdasarkan tes yang dilakukan dengan rapid test, hasil sementara adalah negatif virus AI.

“Kalau berdasarkan uji secara klinis menunjukkan tanda-tanda virus flu burung. Tapi itu baru dilakukan tes berdasarkan rapid test, maka kami akan melakukan tes di laboraturium Balai Besar Veteriner (BBVET) dengan membawa tiga bangkai burung puyuh,” ujar Ambar saat ditemui wartawan di lokasi kandang unggas milik Ponijo, Selasa (6/1/2015).

Sebelumnya, kejadian kematian unggas milik Ponijo secara mendadak itu mengakibatkan 3.000 ekor burung puyuh yang siap bertelur mati. Kini dua kandang burung puyuh di sisi depan hanya menyisakan tiga ekor saja.

“Sekarang tinggal tiga ekor, sudah habis. Kandang yang belakang memang masih, tapi tadi diimbau untuk selalu disemprot disinfektan agar tidak ikut ketularan,” ungkap Ponijo.