MASALAH SANITASI : Pembuangan Air Limbah Jogja Jauh Dari Kata Ideal

14 Januari 2015 07:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Masalah sanitasi di Kota Jogja masih berkisar pengaturan tata letak air bersih dengan pembuangan limbah serta kebiasaan membuang sampah.

Harianjogja.com, JOGJA-Memperingati hari kesadaran sanitasi, sejumlah siswa SMPN 1 dan SMPN 8 Jogja mengikuti kampanye sanitasi di aula SMPN 1 Yogyakarta, Selasa (13/1/2015). Dalam kegiatan itu, Indonesian Infrastructure Initiative (Indii) yang merupakan organisasi kerjasama pemerintah Indonesia-Australia, menyampaikan program hibah peningkatan sanitasi kepada siswa.

Toto Suroto selaku Kepala Dinas Kimpraswil Jogja mengajak seluruh remaja agar mau menjaga saluran pembuangan air limbah di rumah mereka.

“Bagaimana cara menjaganya? Satu, cukup melaporkan. Dua, jangan masukkan plastik ke saluran air limbah karena plastik susah busuk,” kata Toto, Selasa (14/1/2015).

Dalam sesi tanya jawab dengan siswa mengenai masalah sanitasi, Toto menjelaskan sistem pembuangan air limbah di Kota Jogja jauh dari kata ideal. Seharusnya antara sumur air bersih dengan pembuangan limbah berjarak minimal 10 meter. Karena lahan di Kota Jogja semakin sempit dan permukiman semakin padat maka jarak minimal 10 meter itu tidak dapat terpenuhi.

“Mengingat biayanya besar untuk pemenuhan IPAL dan kebetulan Australia ada program hibah, maka pemerintah kota Jogja menggunakan hibah itu,” kata Toto ketika ditanya bagaimana kerja sama Australia-Indonesia bisa terjadi dalam program hibah sanitasi.

Dirinya berharap agar melalui program sanitasi yang dibangun, remaja turut menjadi agent of change (agen perubahan) demi terwujudnya lingkungan hidup yang sehat.

Panitia sekaligus media spesialis kampanye sanitasi, Sopril Amir mengatakan bahwa pemerintah menyediakan hibah infrastruktur di Indonesia, salah satunya Jogja. Salah satu hibah diberikan dalam bentuk Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). Sampai saat ini banyak warga Jogja yang menggunakan septic tank sebagai pembuangan air limbah di rumah mereka.

“Indii bertujuan menarik keluar septic tank itu dan menggunakannya bersama-sama. Indii bangun sambungan dari rumah ke rumah yang sampai 2015 ini jumlahnya 3089 sambungan,” jelasnya.

Melalui hibah itu, Indii mengajak para remaja untuk ikut memperhatikan saluran air limbah di rumahnya. Sopril mengatakan sanitasi tidak hanya terlepas pada sarana dan prasarana tetapi juga perilaku hidup bersih dari setiap anggota rumah tangga.

“Kita ajak remaja ikut memikirkan masalah sanitasi. Jangan sampai mereka berpikir bahwa sanitasi adalah urusan orang tua. Anak juga jadi agen lingkungan,” kata Sofril.