HARGA KEBUTUHAN POKOK : Tenang, Stok Beras Masih Aman

01 Maret 2015 07:20 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Harga kebutuhan pokok, terutama beras diperkirakan lantaran spekulan beras ingin mengambil keuntungan.

Harianjogja.com, SLEMAN-Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu mengatakan, stok beras masih aman dan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat Sleman. Menurutnya, harga beras yang terus melambung di pasaran lebih disebabkan ulah spekulan beras yang ingin mengambil keuntungan.

“Spekulan beras pasti ada dan memicu permainan jumlah beras di pasaran sehingga harganya saat ini naik terus. Namun, stok beras di Bulog masih sangat besar. Operasi pasar yang telah dilakukan diharapkan akan menghentikan spekulan dan membuat harga beras stabil lagi,” ujar Yuni, Jumat (27/2).

Disinggung soal impor beras, Yuni yakin Sleman belum membutuhkannya. “Kita tidak perlu khawatir soal stok beras, apalagi sampai impor. Dengan hasil lokal Sleman saja sudah cukup, bahkan surplus. Beras yang beredar di pasaran Sleman saat ini juga kebanyakan hasil pertanian kita sendiri,” ucapnya.

Yuni menambahkan, Pemkab Sleman berencana mengusulkan kepada Bulog agar surplus beras Sleman dimanfaatkan untuk program bantuan beras miskin (raskin) di wilayah Sleman. “Selama ini warga masyarakat yang mendapat jatah raskin sering kali menjualnya. Mereka tidak ingin mengonsumsi sendiri karena terkadang kualitas berasnya memang rendah. Kami akan berbicara dengan Bulog soal hal itu,” ungkap Yuni.

Yuni berharap, beras-beras terbaik yang dihasilkan petani Sleman bisa dimaksimalkan untuk membantu kalangan kurang mampu. “Beras kita sendiri sudah cukup bagus. Kalau bantuan beras diambil dari lumbung-lumbung di kabupaten ini, nantinya kami berharap raskin tidak perlu masuk lagi ke Sleman,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Widi Sutikno menyatakan sepakat dengan wacana penggunaan surplus beras untuk program raskin. “Saya setuju. Namun, kewenangan distribusi raskin ada pada Bulog. Apakah mau jika memakai beras kita? Jadi harus ada MOU khusus. Kita lihat saja kebijakannya nanti bagaimana,” ungkap Widi.

Soal beras yang harganya semakin mahal, Widi juga membantah jika itu disebabkan minimnya stok beras. “Menurut saya masalahnya ada pada proses distribusi. Selain itu, minggu lalu Bulog juga belum mendistribusikan raskin. Setelah raskin didistribusikan, kondisi pasar diharap berangsur normal,” ujarnya.

Widi melanjutkan, Maret dan April mendatang merupakan masa panen raya. “Sekarang pun sudah banyak yang panen. Pekan depan kami akan menggelar panen raya di lahan seluas 16 hektare di Berbah. Kami ingin menunjukkan produksi beras di Sleman masih melimpah sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” paparnya.