JOGJA ISTIMEWA : Ini Permintaan Sultan untuk Jogja dan Sleman

Penataan reklame Bantul (JIBI/Harian Jogja - Galih Eko Kurniawan)
10 Maret 2015 08:20 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Jogja Istimewa berupa manajemen lalu lintas merupakan keinginan Pemkot sekaligus Sultan.

Harianjogja.com, JOGJA-Manajemen lalu lintas yang dilakukan di Kota Jogja, bukan semata merupakan keinginan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, melainkan juga imbauan dari Raja Jogja, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Imbauan tersebut diungkapkan pada perhelatan Jogja Gumregah Pisowanan Agung Rakyat 'Jogja Istimewa' pada Sabtu (7/3/2015). Selain manajemen lalu lintas, Sultan juga meminta penerapan tegas dan ketat Peraturan Daerah Penyelenggaraan Reklame atau Iklan. Sebab dua hal tersebut yang nantinya bisa membedakan Kota Jogja dengan kota-kota lain.

"Saya mengajak Pemkot Jogja dan Pemkab Sleman untuk mengangkat pamong budaya berbasis masyarakat kampung yang diperbantukan di Satpol PP Kecamatan untuk ikut mengatur lalu lintas agar tidak semakin semrawut," tuturnya.

Hal tersebut juga menjadi perhatian Asisten Sekertaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Jogja, Aman Yuriadijaya. Menurutnya, yang paling dibutuhkan oleh Kota Jogja saat ini memang manajemen lalu lintas, bukan lagi penambahan sarana dan prasarana.

"Manajemen lalu lintas di Kota Jogja adalah otoritas dari pemerintah daerah yang nantinya bisa bekerjasama dengan pemerintah kota. Pemberlakukan manajemen lalu lintas ini bertujuan untuk menyeimbangkan pengadaan sarana dan prasarana yang ada," ujar Aman, Minggu (8/3/2015).

Salah satu langkah untuk melakukan manajemen lalu lintas tersebut, imbuhnya, ?adalah dengan melakukan uji coba. Ia pun menegaskan dalam sebuah tahap uji coba, tidak ada kelompok yang benar dan salah. Sehingga dalam proses uji coba, memang sudah seharusnya ada hal-hal yang bisa diubah dan ada yang tidak.

Jadi kalau ada catatan dari sekelompok pihak tentang proses uji coba manajemen lalu lintas,? maka itu sifatnya adalah masukan yang akan diolah. Karena sekali lagi, otoritas ada di tangan Pemda," ujar Aman.

?Menurut Aman, saat ini kapasitas jalan di Kota Jogja sudah tidak bisa ditingkatkan lagi. Tidak seperti di daerah lain seperti Bantul dan Sleman, Kota Jogja sudah tidak memiliki daya dukung untuk dimasuki kendaraan berat. Ia pun sepakat jika Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menghendaki tidak ada kendaraan berdimenasi berat yang masuk ke Kota Jogja

Aman juga mengatakan rencana manajemen lalu lintas Kota Jogja ini? bisa direalisasikan pada akhir 2016.

"Sampai kapan waktu uji coba, tidak bisa ditentukan secara saklek. Karena itu adalah proses penyesuaian, sehingga harus terus dilakukan hingga mendapat keseimbangan bagi semua pihak," pungkasnya.