UKM GUNUNGKIDUL : Desa Pampang 'Ketiban' Untung Demam Batu Akik

Seorang penjual batu akik Sangiran, Kabul, 43 (kanan) melayani calon pembeli di kiosnya di Jalan Raya Sangiran, Rabu (25/2). (Kurniawan/JIBI - Solopos)
14 Maret 2015 20:40 WIB Redaksi Solopos Gunungkidul Share :

UKM Gunungkidul, terutama perajin perak menuai dampak positif dari demam batu akik.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Perajin perak di Desa Pampang, Kabupaten "kebanjiran" permintaan emban atau cincin penyangga batu akik.

Ketua kelompok perajin perak Pampang, Suratman mengatakan peningkatan permintaan emban sudah terjadi dalam tiga bulan terakhir, sejak meningkatnya penjualan batu akik.

"Pesanannya meningkat seratus persen dibandingkan sebelumnya," kata Suratman di toko peraknya, Jumat (13/3/2015).

Ia mengatakan pihaknya sempat kewalahan melayani permintaan cincin perak untuk emban batu akik. Menurut dia, dalam sehari seorang perajin perak bisa mendapatkan hingga 10 pesanan emban.

"Setiap hari pasti ada yang memesan emban, sampai kami agak kewalahan," katanya.

Ia mengatakan tingginya permintaan emban ini karena harganya yang relatif terjangkau. Selain itu, pesan langsung ke perajin harga satu emban sekitar Rp150.000u sampai Rp350.000. Emban perak Pampang banyak diminati karena hasilnya yang lebih baik dari perajin perak lainnya.

"Permintaan dari penggemar batu akik di seputaran DIY," kata Suratman.

Dia mengatakan satu perajin mampu meraup omzet hingga Rp8 juta sampai Rp10 juta per bulan.

"Seiring adanya peningkatan, otomatis meningkat pula penghasilan perajin," kata dia.

Para perajin di Desa Pampang sendiri sudah memiliki galeri yang berada di desanya. Di galeri tersebut hasil karya seluruh perajin dipajang dan di pasarkan. Namun, bisa juga lansung membeli ke perajin langsung.

Salah seorang penggemar bati akik Wahyu warga Wonosari mengaku memesan emban batu akik di Desa
Pampang selain bagus, ukuran dan bentuk cincin sesuai dengan yang diinginkan.

"Harganya relatif terjangkau," katanya.