BANJIR DI JOGJA : Seperti Ini Upaya Siaga Bencana Banjir di Jogja

JIBI/Desi SuryantoWarga melewati genganan yang membanjiri Kampung Klitren Lor, Gondokusuman, Yogyakarta, Rabu (11/12 - 13) petang. Tidak banyak yang bisa diperbuat warga saat menghadapi banjir musiman akibat meluapnya Kali Manunggal yang membelah perkampungan itu, sebagain besar warga telah mengantisipasi masuknya air banjir dengan membuat tanggul pada bagian pintu/pintu rumah.
17 Maret 2015 03:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Banjir di Jogja masih mengancam sejumlah kawasan. Berbagai upaya dilakukan sebagai langkah antisipasi

Harianjogja.com, JOGJA- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja, Agus Winarto menerangkan, sejumlah titik rawan banjir di Kota Jogja masih berada di wilayah yang dialiri Sungai Code, Winanga, Gajah Wong, dan Kali Belik.

Lembaganya, kata Agus, menjalin koordinasi lintas sektor dalam upaya siaga penanggulangan bencana banjir dan longsor pada musim hujan.

BPBD telah menjalin kerja sama bersama Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Dinas Perhubungan, Dinas Permukiman Prasarana dan Sarana Wilayah, Dinas Ketertiban, Dinas Kesehatan, Perusahaan Listrik Negara, Dinas Bangunan Gedung dan Aset Daerah.

BPBD Kota Jogja, juga telah memiliki Early Warning System yang terpasang di sejumlah titik, yang selalu memantau kondisi sungai, baik luapan yang disebabkan karena hujan atau lahar dingin.

Tak hanya itu, sejumlah Kampung maupun Kelurahan Tangguh Bencana (KTB) juga telah diminta untuk tetap siaga.

Total kini ada 35 KTB, dengan pendekatan berbasis kampung. Pada 2015, pihaknya akan menambah 20 titik KTB lagi. Sementara juga masih ada tiga KTB yang merupakan program BPBD DIY.

Di setiap kecamatan, juga telah disiagakan satu orang koordinator Tim Reaksi Cepat yang harus siaga 24 jam terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam di wilayahnya.

Kepala Bidang Pengembangan dan Kapasitas Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja, Ika Rostika mengungkapkan, sebagai institusi yang memiliki tupoksi pengelolaan lingkungan, pihaknya telah memiliki Satuan Petugas Khusus (Satgasus) yang berasal dari masyarakat sendiri, yang bertugas membersihkan, merawat dan mengambil sampah dari sungai. Hal ini menjadi salah satu upaya pencegahan banjir.

Satgasus ini juga menindak apabila ada warga yang ketahuan membuang sampah di sungai, baik memeringatkan, bahkan meminta kembali si pembuang sampah untukĀ  mengambil sampah yang ia buang ke sungai.

"Sosialisasi agar masyarakat Kota Jogja tidak membuang sampah di sungai, juga tidak henti-hentinya dilakukan," tutur Ika.

Selain itu, mengetahui bahwa aliran sungai juga dimulai dari utara hingga ke selatan Jogja, BLH Kota Jogja menjalin kerja sama dengan lintas wilayah, misalnya Sleman dan Bantul, agar masalah sampah di aliran sungai, yang dapat menjadi penyebab banjir, dapat tertangani bersama.