BAHAYA ISIS : Ini Cara Sleman Tangkis Kelompok Radikal

Ilustrasi bendera ISIS (JIBI/Harian Jogja - Wikipedia)
25 Maret 2015 22:20 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Bahaya ISIS berusaha diantisipasi dengan sejumlah pendekatan.

Harianjogja.com, SLEMAN—Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sleman berencana membuka Biro Konsultasi Remaja dan Keluarga di setiap Kantor Urusan Agama (KUA). Tidak hanya menjadi langkah dalam upaya penanggulangan narkoba, kekerasan, maupun perilaku seks bebas, layanan tersebut juga bertujuan mencegah penyebaran pemahaman agama secara radikal.

Kepala Kantor Kemenag Sleman, Lutfi Hamid menargetkan biro konsultasi remaja dan keluarga bisa dimulai pada April mendatang.

“Bagi keluarga yang melihat ada perubahan terhadap pemahaman dan perilaku beragama anaknya, juga bisa dikonsultasikan ke biro tersebut,” kata Lutfi, saat ditemui di Balaidesa Harjobinangun, Pakem, Sleman, Selasa (24/3/2015).

Menurut Lutfi, ajaran agama yang benar perlu dibumikan kembali. Sebab, tantangan masyarakat sudah bukan hanya radikalisme.

“Kita menghadapi perilaku yang sangat berseberangan. Selain pemahaman agama secara keras, ada juga perilaku meninggalkan agama secara sekuler,” ujarnya.

Lutfi juga menyayangkan banyaknya generasi muda yang terlibat dalam gerakan radikal, termasuk Islamic State Iraq and Syria (ISIS).

“Kami mencoba melakukan penanggulangan dengan memberikan pemahaman agama yang benar. Misalnya, sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang bernuansa ramah, bukan marah. Dua tahun ini kami juga menyiapkan madrasah dengan program tahfidz dan pemahaman agama yang benar serta sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia,” paparnya kemudian.

Ditemui di lokasi yang sama, Bupati Sleman, Sri Purnomo mengaku telah menginstruksikan jajaran pemerintah tingkat kabupaten, kecamatan, maupun desa untuk memperhatikan dan meningkatkan kewaspadaan di wilayah masing-masing.

“Pemantauan wilayah perlu lebih intensif, terutama jika ada pendatang yang mencurigakan. Belum ada indikasi [warga bergabung ISIS atau kelompok radikal lain] tapi kita harus sedia payung sebelum hujan. Kalau bisa jangan sampai ada. Kita tidak boleh kecolongan,” ucap Sri Purnomo.

Masyarakat diimbau tidak mudah tergoda dengan janji-janji dari orang tidak dikenal atau kalangan yang tidak jelas maksud dan tujuannya.

“Ajakan bergabung dengan kelompok radikal biasanya diikuti dengan iming-iming tertentu. Misalnya akan disediakan berbagai fasilitas, mendapat pekerjaan, tapi ternyata ujung-ujungnta dibawa pergi dan ikut kelompok mereka,” ujar Sri Purnomo.

Pemkab Sleman juga terus melakukan koordinasi internal melalui Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM).
“Koordinasi berikutnya akan berlangsung dalam waktu dekat. Hal yang ditekankan terkait ketahanan wilayah dan kerukunan dengan mendatangkan narasumber, terutama yang paham soal terorisme,” ucap Sri Purnomo menambahkan.