PENATAAN KOTA JOGJA : Jumlah Wisatawan Jogja Menurun, Ini Alasannya

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoAbdi dalem memotong dan merapikan dahan pada kedua pohon beringin di Alun-alun Utara Yogyakarta, Kamis (30/10 - 2014). Pohon yang diberi nama Kyai Dewadaru, yang melambangkan persatuan antara Sultan dan Tuhan, dan Kyai Janadaru, melambangkan persatuan Sultan dan rakyat. Sekali dalam setahun kedua pohon tersebut dipangkas dan dirapikan.
28 Maret 2015 07:20 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Penataan Kota Jogja untuk revitalisasi kawasan Kraton mempengaruhi jumlah pendapatan pelaku usaha.

Harianjogja.com, JOGJA-Revitalisasi kawasan dalam benteng Kraton Ngayogyakarta berdampak pada penurunan omzet pelaku usaha di sekitar Alun-alun Utara. Pasalnya, sejak larangan bus-bus wisata parkir di Alun-alun diberlakukan, okupansi wisatawan di sekitar lokasi turun drastis.

Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranawa Eryana mengatakan pesatnya pembangunan hotel di Jogja tidak diimbangi dengan infrastruktur yang memadai. Selain lahan parkir, destinasi wisata di Jogja yang belum banyak bertambah mengakibatkan Jogja mulai tidak dilirik travel agent. Alhasil, okupansi wisatawan ke Jogja turun drastis jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Kebijakan pariwisata yang dikeluarkan pemerintah tidak diimbangi dengan jumlah hotel yang dibangun saat ini. Kadang-kadang, pemerintah enggak ngeeh dengan kebijakan yang dikeluarkan," kritik Deddy di kantornya, Kamis (26/3/2015).

Larangan bus-bus wisata untuk parkir di sekitar Alun-alun Utara berdampak tidak hanya travel agent, tetapi juga pelaku usaha di sekitar Kraton. Bahkan, jumlah pengunjung ke Kraton Jogja turun. Tidak hanya itu, para pelaku usaha di sekitar Alun-alun Utara mulai penjual souvenir, kuliner dan PKL juga mengeluhkan pendapatannya turun drastis. Kondisi ini seperti menegaskan jika pemerintah tidak memikirkan dampak negatif dari kebijakan yang
dikeluarkan.

Dia mencontohkan, dari sejumlah pelaku usaha di sekitar Kraton di antaranya bergerak di bisnis kuliner/restoran yang menjadi anggota PHRI DIY. Seperti Restoran Baleraos, Restoran Pendopo Dalem dan lainnya. Mereka mengaku sejak kebijakan larangan parkir di Alun-alun diberlakukan, pendapatannya turun.

"Ini dampak yang terjadi. Kami bukan menolak atau menentang kebijakan yang dikeluarkan. Tetapi kami butuh solusi. Misalnya, bus-bus ukuran kecil bisa dibolehkan masuk area tersebut," ujarnya kepada Harianjogja.com.

Terpisah, Owner Pendopo Ndalem M. Irsyam mengatakan akibat kebijakan revitalisasi jeron benteng dan larangan bus pariwisata parkir. Di Alun-alun omzet usahanya turun 40%. Dia berharap agar pemerintah memberikan solusi terkait persoalan tersebut.