BANJIR KULONPROGO : Ribuan Hektare Padi Terancam Gagal Panen

02 Mei 2015 17:19 WIB Holy Kartika Nurwigati Kulonprogo Share :

Banjir Kulonprogo menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian padi terandam gagal panen

Harianjogja.com, KULONPROGO - Akibat banjir yang terjadi pada pekan lalu, tak hanya mengakibatkan sejumlah rumah tergenang. Gagal panen mengancam 1.801 hektare lahan pertanian dan kerugian mencapai lebih dari Rp1 miliar.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulonprogo Tri Hidayatun mengungkapkan, akibat banjir yang terjadi Sabtu (25/4/2015) lalu setidaknya telah menggenangi lahan pertanian di tujuh kecamatan. Di antaranya Wates, Pengasih, Temon, Panjatan, Galur, Lendah dan sebagian lahan pertanian di Sentolo.

"Kerusakan tanaman di setiap wilayah bervariasi. Ada yang memang hanya rusak ringan dan mulai pulih. Namun, ada pula tanaman yang rusak sedang, bahkan rusak berat dan terancam puso atau gagal panen," ungkap Tri saat ditemui di kantornya, Kamis (31/4/2015).

Tri mengatakan, sampai saat ini nilai pasti kerugian yang dialami petani masih dihitung. Tanaman padi yang mengalami rusak berat, kata dia, beberapa telah disulam kembali dengan tanaman baru oleh para petani. Meski demikian, dikhawatirkan tanaman tersebut akan terancam kekurangan air.

"Pola tanam di Kulonprogo pada tahun ini ada perubahan. Petani dianjurkan agar panen dapat selalu tepat waktu. Terutama untuk tanaman yang ditanam pada Musim Tanam 2, karena pada Mei sampai Juli, saluran air akan dimatikan," jelas Tri.

Camat Panjatan Sudarmanto mengungkapkan, di wilayah kecamatan ini cukup banyak lahan pertanian yang terendam yakni mencapai 911 hektare. Dia mengatakan, potensi kerugian akibat musibah ini juga terbilang cukup besar.

Bahkan, untuk tanaman padi yang sudah berusia 35 hari, sebagian besar terancam puso. Ada sekitar 30 hektare tanaman padi yang berpotensi gagal panen dan mengakibatkan kerugian besar.

“Apalagi kebanyakan dari padi tersebut merupakan tanaman yang ketiga yang ditanam ulang [disulam] oleh petani. Belum lagi kerusakan tanaman lainnya serta perikan yang juga siap panen. Kejadian ini merupakan yang terparah, setelah kami hitung kerugiannya mencapai Rp8 miliar lebih,” ungkap Sudarmanto.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bambang Tri Budi Harsono menambahkan, musibah banjir telah dilaporkan ke provinsi.

Dia mengatakan, prediksi kerugian masih diolah untuk dapat segera dilaporkan. Setelah analisa kerugian selesai disusun, maka selanjutkan data itu kemudian dilaporkan ke Dinas Pertanian DIY untuk melihat berapa kerugian yang diprediksi.

“Harapannya, nanti akan kami ajukan usulan untuk memberikan kompensasi kepada masyarakat petani yang terdampak banjir. Bahkan, bila perlu juga dikomunikasikan ke pusat. Kalau tahun lalu ada kompensasi berupa uang atau bantuan benih. Bisa juga dengan diupayakan bantuan lain, seperti subsidi pupuk atau pembangunan infrastruktur,” imbuh Bambang.