SABDA RAJA : Romo Tirun : Abdi Dalem Mengabdi pada Kraton & Menjaga Kebudayaan

JIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTOSARASEHAN KEISTIMEWAAN -- KRT. JATININGRAT atau yang akrab dipanggil Romo Tirun (baju batik) berbicara di depan puluhan Relawan dan Pejuang Ijab Qobul dari berbagai daerah di DIY dalam sebuah acara sarasehan Keistimewaan di Posko Ijab Qobul di sisi timur Alun-Alun Utara Yogyakrta, Sabtu (28 - 1). Romo Tirun membeberkan sejarah berdirinya NKRI dan peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam membangun NKRI.
11 Mei 2015 06:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Sabda Raja yang baru saja dikeluarkan diharapkan tidak mengganggu lembaga Kraton.

Harianjogja.com, JOGJA-Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengeluarkan Sabda Raja pada Kamis (30/5/2015). Inti dari Sabda Raja itu adalah mengubah gelar. Kemudian pada Selasa (5/5/2015) Mei, Sultan mengeluarkan Dawuh Raja yang intinya mengganti gelar putri sulungnya dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram.

Namun tidak kerabat Kraton sepakat dengan keputusan Sultan tersebut. Bahkan adik-adik Sultan menolak isi dari Sabda Raja tersebut karena menganggap sudah keluar dari Paugeran Kraton. Romo Tirun mengaku perbedaan pandangan antara Sultan dan para pangeran (Adik-adik Sultan) akan mempengaruhi keutuhan Kraton.

Terkait sabda raja, Cucu dari HB VIII, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jatiningrat yang menjabat sebagai Pengageng Tepas Dworo Puro (semacam Humas) Kraton mengaku tidak paham dengan Sabda Raja yang diucapkan Sultan. Pria yag biasa disapa dengan Romo Tirun ini mengartikan inti dari Sabda Raja itu tidak lain adalah keinginan Sultan mengangkat Gusti Kanjeng Ratu Pembayun menjadi putri mahkota. Namun Romo Tirun merasa tidak berhak mencampuri urusan keluarga besar HB IX.

Romo tirun berharap, polemik yang terjadi di internal Kraton tidak sampai mengganggu lembaga Kraton. Ia mengakui abdi dalem bertanya-tanya soal polemik tersebut, namun ia menekankan bahwa abdi dalem harus kembali pada pengabdian untuk lembaga Kraton, dan menjaga kebudayaan para leluhur.

"Mohon maaf, abdi dalem bukan pakune Sultan, tapi abdi negara, hanya mengabdi pada lembaga [Kraton] tinggalane leluhur," kata Romo Tirun.

Soal perbedaan pandangan di antara Sultan dan para pangeran (Rayi Dalem), Romo Tirun mempersilahkan untuk diselesaikan dengan baik-baik.

"Semua punya tanggungjawab dan ada resikonya masing-masing," ucap dia.

Meski sudah ada perubahan gelar dari Buwono menjadi Bawono, sampai Sabtu, siang semua proses administrasi di Kraton masih menggunakan nama Sri Sultan Hamengku Buwono.