TAMBAK UDANG BANTUL : Relokasi Terganjal Lahan

Seorang petambak udang di kawasan Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, siap menebar jaring di tambak miliknya, Minggu (19/4/2015). (JIBI/Harian Jogja - Arief Junianto)
19 Mei 2015 16:21 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Tambak udang Bantul terganjal masalah relokasi lahan.

Harianjogja.com, BANTUL- Rencana Pemkab Bantul menyediakan lahan seluas 45 hektare di Dusun Wonoroto, Desa Gadingsari, Sanden untuk area relokasi tambak udang terganjal. Lahan yang tersedia hanya sekitar 10 hektare.

Ketua Kelompok Tani Dusun Wonoroto, Mulyono mengungkapkan, pengurus kelompok tani telah mengukur lahan di Wonoroto yang bakal dijadikan zona tambak berizin. Terutama yang berada di sebelah selatan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan dekat dengan Pantai Pandansari.

Hasilnya kata dia, hanya tersedia lahan sekitar 10 hektare yang layak dijadikan area relokasi. "Enggak mungkin permintaan 45 hektare itu bisa terpenuhi. Kami sudah melakukan pengukuran lahan sesuai perintah Pemkab Bantul," ungkap Mulyono, Senin (18/5/2015).

Sejatinya kata Mulyono, ada 30 hektare lahan di selatan JJLS. Namun belum dikurangi berbagai bangunan seperti bangunan milik lembaga keagamaan, terpotong aturan 27 meter dari JJLS serta harus dikurangi dengan lahan sawah milik warga. Alhasil sisa lahan yang tersedia hanya sekitar 10 hektare dan merupakan Sultan Grond (SG).

Sementara bila menggunakan lahan di sebelah utara JJLS untuk mencapai target 45 hektare menurutnya pasti tidak mungkin dilakukan.

"Kalau menyeberang JJLS ke utara jelas tidak bisa, di sana itu tanah milik warga semua bakal berhadapan dengan warga. Lagipula bagaimana mengatur saluran air atau limbah kalau harus melewati JJLS," lanjut dia.

Mulyono menambahkan, area SG sekitar 10 hektare yang bakal diubah menjadi zona tambak, mayoritas merupakan lahan pertanian kering. Berbagai jenis tanaman seperti bawang merah, cabai dan sayur mayur banyak ditanam di area ini. Hanya sebagian kecil lahan tidak produktif yang ditanami tanaman keras seperti pohon akasia.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul Edi Mahmud mengaku baru mendengar kabar kekurangan lahan relokasi tambak. Kondisi tersebut menurutnya akan dibahas dan dicari solusinya.

"Targetnya 45 hektare kenyataannya hanya 10 hektare lalu bagaimana nanti dirembug bersama-sama, saya tidak bisa memutuskan," terang Edi Mahmud.

Padahal kata dia, Bupati Bantul Sri Surya Widati telah menandatangani kepastian lahan seluas masing-masing 45 hektare di Wonoroto dan Dusun Ngepet, Desa Srigading, Sanden untuk dijadikan area relokasi tambak.

"Kalau diubah lagi target 45 hektare sepertinya enggak bisa karena itu sudah ditandatangani. Pemkab kan harus memastikan luas lahan untuk mengajukan bantuan pembangunan tambak ke pusat," imbuhnya.