Debit Sumber Air Menyusut, Droping Air Gunungkidul Melambat
Debit sumber air menyusut akibat kemarau panjang, penyaluran air bersih di Gunungkidul melambat. BPBD telah menyalurkan ribuan tangki air.
Seorang pedagang melayani pembeli di Pasar Argosari. Jelang Ramadan, bawang merah menjadi komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi. Jumat (22/5/2015). (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan)
Harga kebutuhan pokok untuk bawang merah meningkat singnifikan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Harga bawang merah kembali merangkak naik, dan tembus Rp35.000 per kilogram. Kenaikan ini terjadi sejak empat hari yang lalu. Diduga minimnya pasokan menjadi penyebab kenaikan harga tersebut.
Salah seorang pedagang di Pasar Argosari mengatakan, Sumarsih mengatakan, harga bawang merah terus berubah-ubah. Untuk saat ini, harganya paling tinggi karena menembus angka Rp35.000 per kilogram.
“Padahal harganya stabil dikisaran Rp25.000. Namun, sejak empat hari yang lalu harganya merangkak naik,” kata Marsih kepada wartawan, Jumat (22/5/2015).
Dia menduga kenaikan tersebut terjadi karena pasokan di pasaran sangat minim. Hal tersebut terlihat dari kualitasi barang yang masuk ke pasar. Untuk saat ini, Marsih mengaku kesulitan mendapatkan bawang merah dengan kualitasi bagus.
“Cari yang ukuran besar sangat susah mas. Yang ada hanya kecil-kecil, itu pun harganya sudah Rp30.000 per kilogram,” tuturnya.
Selain itu, kenaikan tersebut dipicu belum adanya panen bawang merah di tingkat petani. Sebab, petani baru akan menanam bawang merah di bulan Juni nanti. “Saat ini pasokan banyak didominasi dari luar daerah. Untuk komoditas lokal belum ada, karena petani belum ada yang menanam,” tutur Marsih.
Ikutan Naik
Penyebab naiknya harga bawang, salah satunya juga dipicu pelaksanaan Ramadan yang tinggal sebentar. Kondisi ini, juga berpengaruh terhadap harga beberapa kebutuhan pokok yang lain.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan Harianjogja.com, kemarin, selain bawang merah, kenaikan juga terjadi pada gula, telor hingga sayur mayur.
Untuk gula, pedagang awalnya hanya menjual Rp10.000, namun sejak beberapa hari yang lalu harganya menjadi Rp13.000 per kilogram. Telur naik Rp2.000 menjadi Rp20.000 per kilogram. bawang putih, yang awalnya Rp18.000, sekarang dijual Rp22.000 per kilogram. “Semua kompak naik, dan waktunya juga hampir bersamaan,” kata Koko Jatmiko, pedagang kelontong di Pasar Argosari, kemarin.
Menurut dia, jelang Ramadan sudah menjadi hal yang biasa, saat kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Sebab, kejadian ini terus berulang tiap tahunnya. “Puncaknya pada saat menjelang lebaran, namun setelah itu harganya perlahan-lahan akan turun lagi,” tutur Koko.
Untuk mengendalikan harga, para pedagang tidak bisa berbuat banyak, karena harga-harga tersebut disesuaikan dengan harga barang. Saat barang naik, maka harganya pun akan dinaikan, begitu juga yang terjadi sebaliknya. “Kami bisa apa, wong hanya pedagang kecil. Saya pribadi berharap agar kestabilan harga itu bisa dijaga,” ungkapnya.
Namun demikian, kata Koko, tidak semua barang mengalami kenaikan, sebab harga-harga seperti tepung terigu, minyak maupun beras masih dijual sama. “Semua barang belum ikutan naik. Tapi lambat laun, barang-barang itu juga akan naik,” tutur dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Debit sumber air menyusut akibat kemarau panjang, penyaluran air bersih di Gunungkidul melambat. BPBD telah menyalurkan ribuan tangki air.
Rusia mendukung upaya negara GCC mencegah perang di Timur Tengah. Sergey Lavrov mengusulkan pembaruan konsep keamanan kolektif kawasan Teluk.
Survei PPI menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas simulasi elektabilitas cawapres 2029 dengan 21%, mengungguli Gibran.
Kenali 10 situs streaming film ilegal, termasuk LK21 dan IndoXXI, serta risiko malware, pencurian data, penipuan, dan pelanggaran hak cipta.
BMKG memantau sisa sebaran asap karhutla di Banten. Simak 7 barang yang perlu disiapkan di rumah untuk mengurangi paparan asap.
Belanja jemaah haji Indonesia mencapai sekitar Rp4 triliun. Menhaj mendorong UMKM daerah memanfaatkan peluang ekonomi haji dan umrah.