SENIMAN MILIADER : Pop Art Sebagai Genre (Bagian 2)

I Nyoman Masriadi (JIBI/Harian Jogja - Andreas Tri Pamungkas)
08 Juli 2015 01:20 WIB Sleman Share :

Seniman miliader I Nyoman Masriadi memilih pop art sebagai aliran lukisannya.

Harianjogja.com, SLEMAN-Meninggalkan pengaruh beberapa seniman yang dikagumi, seperti Jasper Jones, Pablo Picasso dan Affandi, bagi seniman Jogja, I Nyoman Masriadi berarti menemukan dunianya sendiri dalam genre pop art. Masriadi belajar dari kehidupan sehari-hari melalui permainan komputer dan komik.

Karya seniman yang mampu menjual lukisannya hingga miliaran rupiah itu terkesan sederhana, tetapi sering memperlihatan satire politik.
Kehidupan pelukis kelahiran Gianyar, Bali itu, tak dapat lepas dari game. Seperangkat komputer senantiasa menemaninya di ruang kerja yang ia sulap jadi studio di rumahnya, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman.

Komputer itu tak jarang berdampingan dengan kanvas sehingga memudahkannya untuk mencari solusi ketika idenya buntu, tanpa Masriadi harus berpindah tempat. Dia tergolong maniak game. Bahkan, kata dia, permainan di komputer lebih menggodanya ketimbang melukis.

Nyoman bekerja sendiri di studio itu, tanpa asisten yang membantunya. Di situ juga ada minibar, sebuah meja biliar, dan tergantung pula kantong tinju. Tak jauh dari papan kanvasnya, tergeletak sit up bench body gym atau alat kebugaran yang berfungsi khusus untuk sit up. “Biar [perut] six pack,” kata dia sembari memegang perutnya yang mulai mengendur karena jarang menggunakan alat kebugaran tersebut.

Figur pria kekar dengan bentuk otot perut menyerupai susunan enam kotak atau sering disebut six pack tercermin dalam karyanya yang terjual Rp4,5 miliar pada Art Jog di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Juni 2015 lalu. Kedua tangan pria itu menengadah ke atas, dilengkapi dengan kotak bertuliskan “Shangri-La” yang menutup alat kelaminnya. Latarnya putih disemarakkan gelembung-gelembung air. Wajahnya penuh ekpresi kegembiraan. Mulutnya terbuka lebar dan matanya menatap ke atas seolah merasakan kenikmatan yang tak terkira. Judul lukisan itu Shangri-La.

“Shangri-La menceritakan surga dunia, menciptakan surga sendiri. Rekaan surga yang menyenangkan,” ujar bapak tiga anak itu.

Lukisan Shangri-La diadaptasi dari novel Lost Horizon karya sastrawan Inggris, James Hilton pada 1933. Novel itu menceritakan tempat indah yang tidak nyata di Pegunungan Himalaya yang disebut sebagai Shangri-La.

Nyoman mengaku mengerjakan Shangri-La kurang lebih sebulan. Karyanya biasanya ia kerjakan dalam kurun waktu itu, tergantung besar kecilnya lukisan. Shangri-La dibuat dalam kanvas berdimensi dua meter kali 1,5 meter.

Figur pria berotot menjadi corak kebanyakan karya Nyoman. Dalam lukisan The Man From Bantul (The Final Round) yang terjual sekitar Rp10 miliar dalam lelang Sotheby’s di Hong Kong pada Oktober 2009, Masriadi menggambarkan sosok tiga manusia berkulit hitam sedang beradu jotos di atas ring.
Begitu halnya pada Sorry Hero, I Forgot pada 2008 yang disebut-sebut menjadi motor booming lukisan kontemporer di Asia Tenggara karena laku terjual Rp6 miliar dalam lelang Sotheby’s di Hong Kong.

Lukisan itu menggambarkan deformasi pria berotot yang merupakan persilangan tokoh DC Comics, yakni Superman dan Batman. “Laki- laki indah digambar. Cewek jarang ototnya,” kata dia.

Sementara, warna hitam banyak dia goreskan pada lukisannya karena kesan gelap yang kontras dengan warna putih. Masriadi mengaku bisa terus berkarya ketika banyak persoalan. Saat santai, dia malah kehabisan ide. “Kebanyakan [ide muncul dari] masalah pribadi. Sosial sudah tak banyak digarap,” ujar dia.

Kembalinya dia dan keluarganya ke Jogja pada 1998 adalah periode yang sangat produktif. Saat itu Indonesia sedang mengalami transisi yang penuh gejolak

Masriadi kala itu membuat lukisan berjudul Diet Sudah Berakhir, dan menggambarkan seorang pria merosot di toilet, dengan tangannya diborgol ke pipa. Seorang pelayan berdiri di sampingnya dan berkata, “Ganteng pesan apa?”

“Masriadi merepresentasikan gambar yang humoris dan kadang- kadang adegan yang menyindir. Masriadi memanfaatkan visual karikatur yang canggih untuk menciptakan ekpresi lucu,” ujar kritikus seni dari Institut Senin Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dwi Marianto.