LEBARAN 2015 : Berkat Idulfitri, Kontrakan Sofiah Terbayar

Sofiah menjual sate khas Madura di lapangan Denggung, Jumat (17/7/2015).(JIBI/Harian Jogja - Bernadheta Dian Saraswati)
19 Juli 2015 13:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Lebaran 2015, tidak setiap orang memiliki kesempatan mudik.

Harianjogja.com, SLEMAN-Tradisi mudik memberikan tambahan penghasilan bagi pedagang makanan. Seperti halnya, penjual sate asal Madura, Sofiah. Banyaknya jamaah yang mudik dan salat Idulfitri di Lapangan Denggung, Sleman membuat dagangannya habis terjual.

Ribuan umat Muslim memenuhi Lapangan Denggung Sleman pada Jumat (17/7/2018). Mengenakan pakaian dan mukena baru, mereka berjajar rapi menghadap ke arah Kiblat untuk melakukan salat Id.

Namun, jauh di sisi selatan lapangan, seorang penjual sate ayam yang mengenakan atasan pakaian tidur warna hijau, tampak sibuk mengolak-alik sate di atas pembakaran. Sesekali matanya tertuju pada ribuan orang yang sedang salat di depannya. Seakan ingin bergabung namun apa daya ia tak membawa mukena untuk salat.

Perempuan muda itu bernama Sofiah. Ia berasal dari Madura dan tidak pulang kampung pada Lebaran tahun ini. Baginya, memutuskan untuk mudik adalah keputusan berat. Kenapa? Karena bekal Rp2 juta harus benar-benar ia perjuangkan. Ia harus mengumpulkan selama berbulan-bulan untuk membiayai perjalanan Jogja-Madura pulang pergi. Belum untuk membelikan sesuatu untuk keponakannya di sana.

"Pengennya pulang, kangen sama emak. Tapi pulang juga butuh duit. Di sini juga masih nanggung utang," ungkap ibu dua anak yang tinggal di rumah kontrakan di Mulungan, Sleman ini.

Jauh di lubuk hati terdalamnya, besar keinginan untuk kembali ke tanah Madura. Berjumpa dengan si sulung yang tinggal bersama emaknya. Namun keinginan untuk pulang hanya harapan semu. Ia hanya mampu menatap kenyataan bahwa tahun ini ia tak bisa berkumpul dengan keluarga besarnya.

"Sedih rasanya. Apalagi tadi malam, dengar takbir pertama kali bisanya cuma nangis," ucap ibu dari Ruspandi, 13 dan Reva, 2, ini.

Namun, berjualan sate hingga laris terbeli menjadi obat pelipur lara baginya. Ratusan tusuk sate yang ia bawa habis terjual diborong para jamaah usai mengikuti salat id. Bahkan sang suami, Cak Heri, harus kembali ke kontrakan untuk mengambil lontong dan tambahan sate yang belum dibakar.

"Alhamdulilah. Bisa untuk bayar kontrakan," kata Sofiah sembari mengibaskan kipas ke arah sate yang sedang ia bakar.