PENATAAN BANTUL : Proyek Warung Apung Tengklik Molor

Warga beraktivitas di dekat tempat pelelangan ikan Pantai Samas, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul pada akhir 2013 (JIBI/Harian Jogja - Desi Suryani)
24 Juli 2015 11:23 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Penataan Bantul untuk objek wisata warung apung teklik belum juga diselesaikan.

Harianjogja.com, BANTUL-Rencana pembangunan warung apung di kawasan Dermaga Tengklik, Desa Srigading, Kecamatan Sanden dipastikan molor.

Proyek yang sumber dananya berasal dari Dana Bekas Pembantuan yang diajukan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Perubahan (APBN-P) sebesar lebih dari Rp1 miliar itu baru bisa turun sekitar akhir Agustus mendatang.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul Imam Subardiasa. Saat dihubungi, dirinya membenarkan bahwa rencana pembangunan warung apung seluas satu hektaran itu bisa dipastikan molor dari rencana awal. “Rencana awal, pengerjaan kan mulai dilakukan pada Mei,” akunya, Rabu (22/7/2015).

Diakuinya, saat ini proses yang tengah berlangsung baru dalam tahap lelang. Itulah sebabnya, ia pun tak berani memberikan jaminan apapun terkait kepastian tanggal pengerjaan proyek tersebut.

Sementara terkait dengan pemilihan fokus penataan Dermaga Tengklik, diakuinya, hal itu adalah keputusan dari pihak konsultan perencana yang ditunjuk langsung oleh pemerintah DIY. Akan tetapi, menurutnya, pertimbangan utama penataan kawasan tersebut adalah pada lokasi warung apung yang jauh lebih strategis jika diletakkan di sekitar Dermaga Tengklik. “Itulah kenapa, untuk saat ini kami lebih fokus di kawasan dermaga [Tengklik] dulu,” ujarnya.

Menurutnya, hal itu cukup lazim dalam program penataan sebuah kawasan. Diakuinya, penataan kawasan memang tak bisa dilakukan secara bersamaan. Di situlah menurutnya peran penting dari konsultan perencana.

Terpisah, salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gading Mas Desa Srigading Widiyatmoko mengaku dijanjikan oleh pihak Desa Srigading, pembangunan warung apung tersebut akan mulai dikerjakan pada 27 Juli mendatang. Ia hanya berharap janji itu tak lagi meleset seperti saat pencanangan awal beberapa bulan lalu. “Janjinya sih seperti itu [tanggal 27 Juli]. Tapi tidak tahu nanti realisasinya seperti apa,” akunya.

Proyek itu diharapkannya tak lagi molor lantaran pihak Pokdarwis Gading Mas kini juga tengah sibuk menggodok rencana penataan Pantai Samas. Ia berharap proyek pemerintah (Warung Apung) itu nantinya bisa dikerjakan secepatnya. Dengan begitu, keberadaan warung apung itu pun bisa sejalan dengan visi penataan Pantai Samas secara keseluruhan.

Diakuinya, ia kini tengah beberapa konsep utama penataan Pantai Samas. Di antaranya mengenai kebersihan lingkungan dan penataan warung-warung liar di sekitar Pantai Samas.

Menurutnya, dua hal itulah yang saat ini mendesak untuk ditata. Persoalan sampah diakuinya cukup membelit. Pasalnya, kondisi Pantai Samas saat ini memang sudah penuh dengan sampah. Untuk mengantisipasinya, pihak kelompok nelayan Pantai Samas yang bekerjasama dengan Pokdarwis Gading Mas menggelar kerja bakti setiap Jumat Kliwon.

Sementara terkait dengan warung-warung liar di sekitar pantai, menurutnya hal itu juga tak kalah mendesak untuk ditertibkan. Pasalnya, warga sekitar Pantai sudah lama meresahkan keberadaan para Pekerja Seks Komersial (PSK) yang ada di situ. “Kebanyakan sih memang pemilik warung itu adalah warga luar Samas,” katanya.

Itulah sebabnya, ia berencana melakukan penataan terhadap wawung-warung itu, baik status kepemilikan maupun penataan lokasinya. Dengan begitu, sinergitas antara warung dan objek wisata pun bisa saling menguntungkan.