Advertisement
HARGA KEBUTUHAN POKOK : Harga Tidak Stabil, Apa Penyebabnya?
Advertisement
Harga kebutuhan pokok tidak stabil terutama menjelang hari raya
Harianjogja.com, BANTUL- Ketidakstabilan harga kebutuhan pokok masyarakat sejak awal Lebaran lalu di Bantul lantaran faktor produksi panen dibantah oleh pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertahut) Bantul.
Advertisement
Kepala Dipertahut Bantul Partogi Dame Pakpahan mengklaim, hal itu disebabkan lantaran adanya tata niaga yang sengaja diciptakan agar pasokan komoditas tertentu langka di pasaran. Dengan begitu, praktis harga komoditas itu pun sontak akan mengalami perubahan drastis.
“Komoditas yang biasa mengalami hal ini adalah bawang merah dan cabai,” katanya kepada wartawan, Sabtu (25/7/2015) sore.
Dikatakannya, hal ini tak lain adalah ulah para tengkulak yang dengan sengaja mempermainkan harga kebutuhan pokok masyarakat. Terlebih, saat Lebaran memang salah satu momentum tepat dimana permintaan masyarakat terhadap beberapa komoditas kebutuhan pokok relatif meningkat.
Ia mencontohkan harga bawang merah, di Bantul sebagai salah satu sentra penghasil bawang merah, sudah seharusnya jika produksi panennya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Bantul sendiri. Akan tetapi, kenyataannya harga di pasar tetap saja tak stabil bahkan terkadang melonjak tajam.
"Sebenarnya, di tingkat petani, harga masih terjangkau namun ketika sudah ke tangan tengkulang dan bawang merah dimainkan sehingga sampai konsumen harga sudah mahal,"ucapnya.
Itulah sebabnya, pihaknya akan melakukan koordinasi lebih intens dengan pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Penanaman Modal (Disperindagkop-PM) untuk membenahi tata niaga barang kebutuhan pokok. "Ini karena tugas pokok kita itu kan menanam. Sedangkan untuk tata niaga kan ada di tangan Disperindagkop," akunya.
Terpisah, Kepala Disperindahkop-PM Sulistyanta mengakui, secara berkala, pihaknya sudah melakukan pemantauan harga di sejumlah pasar tradisional.
Tak hanya melakukan pemantauan terhadap perubahan harga, hal itu juga dimaksudkannya untuk mengetahui secara konkret jumlah stok dan sejauh mana permintaan masyarakat terhadap komoditas tersebut. “Terutama komoditas yang termasuk dalam kebutuhan pokok masyarakat,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Hujan Lebat Picu Banjir di Jakbar, 12 RT dan 4 Jalan Tergenang
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




