Advertisement

PELABUHAN TANJUNG ADIKARTA : Pengerukan Berdampak Pada Wisatawan, Ini Logikanya

Sekar Langit Nariswari
Rabu, 06 Januari 2016 - 07:55 WIB
Mediani Dyah Natalia
PELABUHAN TANJUNG ADIKARTA : Pengerukan Berdampak Pada Wisatawan, Ini Logikanya

Advertisement

Pelabuhan Tanjung Adikarta untuk proses pengerukan diharapkan memperhatikan berbagai aspek.

Harianjogja.com, KULONPROGO- Pengerukan pasir yang dilakukan untuk pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto memberi dampak bagi wisatawan yang berkunjung ke Pantai Glagah. Pengerukan yang dilakukan di sisi timur pecah gelombang mengakibatkan area tersebut lebih dalam dan beresiko bagi pengunjung.

Advertisement

“Karena pengerukan jadinya di timur pemecah gelombang itu lebih dalam dan arusnya deras,” ujar Koordinator Sarlinmas Wilayah V, Samsudin, pada Selasa (5/1/2016). Kawasan yang dimaksud merupakan area muara Sungai Serang, Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo.

Ia menjelaskan area tersebut paling banyak memakan korban tenggelam dibanding area lainnya di Pantai Glagah. Salah satunya kejadian pada Minggu (27/12/2015), ketika itu seorang wisatawan asal Purworejo terperosok pada lubang bekas pengerukan alur sungai dan kemudian tenggelam terbawa arus.

Demi menghindari kejadian serupa, kini para petugas SAR meningkatkan perhatian pada untuk menghimbau pengunjung Pantai Glagah bermain di area timur pemecah gelombang tersebut.

“Diarahkan supaya mandi-mandinya di barat pemecah gelombang saja,” jelas Samsudin.

Ia juga menyebutkan jika di beberapa sudut kawasan Pantai Glagah sendiri sudah terpasang papan peringatan larangan bermain di air. Faktanya, masih banyak pengunjung yang tetap bermain dan berenang di pantai tersebut.

“Kebanyakan wisatawan ini kan dari gunung, jadi kasian jika kita larang sama sekali main air,” jelas Samsudin.

Meski beresiko, Samsudin menyebutkan jika sampai saat ini belum ada plang yang dipasang untuk memperingatkan wisatawan mengenai area yang lebih berbahaya tersebut.

Sebelumnya, sempat dipasang peringatan berupa larangan mendekat ke kawasan tersebut karena sedang dilakukan proyek pengerukan sebagai jalan masuk kapal. Namun, paska-proyek pegerukan tersebut tak lagi berlanjut maka plang tersebut juga sudah dicabut.

“Proyeknya sudah kelar makanya plang peringatannya juga gak ada lagi,” jelas Samsudin.

Ia juga mengakui jika pengawasan sulit dilakukan apalagi ketika musim liburan yang berefek membludaknya jumlah wisatawan. Samsudin juga menambahkan tidak mungkin kejadian tenggelam serupa akan terus terjadi jika plang peringatan tidak dipasang.

“Bukan cuma ketika ramai wisatawan namun juga pada hari-hari biasanya,”jelas Marino, salah satu petugas SAR.

Proyek pengerukan Pelabuhan Tanjung Adikarto sendiri saat ini terhenti karena putus kontrak. Dari total kedalaman ideal 4,5 meter baru terealisasi 2-2,5 meter pada akhir tahun 2015 lalu.

“Masih perlu direschedule lagi untuk kelanjutannya,” ujar Sudarno,Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan (DKPP) Kulonprogo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kecaman Keras Muncul Atas Aturan Hukuman Mati Israel

Kecaman Keras Muncul Atas Aturan Hukuman Mati Israel

News
| Sabtu, 04 April 2026, 20:17 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement