PEMULANGAN ANGGOTA GAFATAR : Kembali ke Kampung Halaman, Mantan Gafatar Bingung Melanjutkan Hidup

Pemindahan anggota gafatar (Desi Suryanto/JIBI - Harian Jogja)
06 Februari 2016 12:19 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Pemulangan anggota Gafatar menyisakan masalah kelanjutan hidup mereka

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) akhirnya dikembalikan ke masyarkat setelah menjalani program rehabilitasi di Balai Latihan Kerja selama tiga hari. Namun keberlanjutan nasib mereka masih menjadi tanda tanya, karena jatah hidup yang diberikan hanya untuk waktu dua minggu.

Sejumlah warga pun menyuarakan adanya kebijakan khusus untuk melanjutkan kehidupan  mereka. Terlebih lagi, jatah hidup yang diberikan hanya untuk dua minggu. Kondisi itu sangat bertolak belakang dengan keadaan saat melakukan transmigrasi mandiri di Mempawah, Kalimantan Barat, di mana eks anggota itu sudah merasa nyaman dan tenteram di sana.

“Kami belum tahu mau apa? yang jelas untuk saat ini, kami pulang ke rumah dulu,” kata salah seorang mantan anggota Gafatar Suparti, Jumat (5/2/2016).

Dia pun berharap adanya bantuan khusus untuk modal usaha. Pasca-dipulangkan paksa, Suparti mengaku tidak memiliki apa-apa, karena seluruh perabotan rumah yang dimiliki dijual untuk berangkat ke Pulau Kalimantan tiga bulan yang lalu.

“Kalau rumah itu masih milik orang tua. Hanya saja, untuk  melanjutkan hidup kami butuh modal, yang setidaknya bisa untuk membuka usaha kecil-kecilan,” ungkapnya.

Selama proses rehabilitasi di BLK, Suparti mengaku mendapatkan pendampingan kejiwaan dari dokter spesialis kejiwaan di RSUD Wonosari. Dalam kegiatan itu, eks anggota diharapkan bisa kembali berbaur dengan masyarakat seperti sedia kala sebelum pergi.

“Untuk saat ini yang kami pikirkan bagaimana melanjutkan hidup lagi, tidak mungkin kalau hanya berharap dari jatah hidup yang diberikan,” ujar wanita asli Gedangsari itu.