PENATAAN MALIOBORO : Apa Evaluasi Selama Libur Imlek?

10 Februari 2016 08:54 WIB Redaksi Solopos Jogja Share :

Penataan Malioboro terus dilakukan.

Harianjogja.com, JOGJA - Pemerintah Kota Jogja akan melakukan evaluasi total mengenai kondisi Malioboro yang dinilai masih semrawut dan tidak teratur selama libur panjang perayaan Imlek akhir pekan lalu.

"Seperti yang bisa dilihat, kondisinya memang seperti itu. Tidak teratur karena banyaknya pengunjung di Malioboro. Saya akan lakukan evaluasi menyeluruh. Tujuan utamanya meningkatkan koordinasi semua pihak terkait," kata Walikota Jogja Haryadi Suyuti seperti dikutip dari Antara, Selasa (9/2/2016)

Selama libur panjang perayaan Imlek, Pemerintah Kota Jogja memilih tidak memasang pagar pembatas yang biasanya terpasang di sisi barat Jalan Malioboro.

"Ada banyak pertimbangan. Namun nyatanya kondisinya menjadi tidak tertib," lanjutnya.

Sejak akhir Desember 2015, Pemerintah Kota Jogja memasang pagar pembatas berwarna jingga di sisi barat Jalan Malioboro. Namun, banyak yang mengkritik keberadaan pagar tersebut karena dinilai pemasangannya tidak tepat.

Pemerintah Kota Jogja kemudian membongkar pagar tersebut sejak beberapa pekan lalu dan tidak memasangnya kembali hingga libur panjang Imlek. Pagar pembatas dipasang untuk menertibkan pengunjung, salah satunya menyeberang di lokasi yang sudah ditetapkan.

Selama libur panjang Imlek, Haryadi menilai, tiga unsur yang seharusnya terwujud di Malioboro sebagai tujuan utama wisata di Kota Jogja yaitu keamanan, kebersihan dan ketertiban tidak terealisasi.

Ia tidak menampik jika banyak keluhan yang masuk dari wisatawan, seperti kondisi Malioboro yang sangat kotor karena sampah berserakan di mana-mana hingga banyak wisatawan yang kecopetan.

"Guna menyambut libur panjang akhir pekan lalu, kami sebenarnya sudah menambah 60 tempat sampah di Malioboro. Tetapi banyak yang hilang, mungkin hanya tersisa sekitar 10 tempat sampah saja. Bagaimana sampah tidak menumpuk," katanya.

Oleh karena itu, lanjut Haryadi, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri untuk mewujudkan Malioboro yang tertib, aman dan bersih.

"Perlu kerja sama dengan seluruh pihak termasuk komunitas yang ada di kawasan itu yaitu pedagang dan parkir. Jika tidak ada dukungan, maka ketertiban tidak bisa diwujudkan. Ketertiban di Malioboro adalah hal yang mutlak," katanya.

Haryadi menyebut, penataan Malioboro dengan mewujudkan kawasan yang tertib, aman dan bersih bukan hanya untuk kepentingan segelintir pihak tetapi untuk kepentingan yang lebih besar.

Ia pun mengusulkan perlunya dibentuk gugus tugas Malioboro sehingga upaya mewujudkan kondisi yang tertib, dan aman tidak hanya menjadi tugas dari Jogoboro selaku petugas pengamanan di Malioboro.