PEREMPUAN INSPIRATIF : Lanjutkan Estafet Pengetahuan

Pemilik Poyeng Knit Shop, Ajeng Galih Sitoresmi (Mediani Dyah Natalia/JIBI - Harian Jogja)
15 Februari 2016 23:55 WIB Mediani Dyah Natalia Jogja Share :

Perempuan inspiratif berikut merupakan pemilik Poyeng Knit Shop, Ajeng Galih Sitoresmi

Harianjogja.com, JOGJA-Mimpi pemilik Poyeng Knit Shop, Ajeng Galih Sitoresmi sederhana, berbagi setiap pengetahuan dan ketrampilan pada orang lain. Tujuannya pun tak muluk-muluk. Ingin estafet ilmu tersebut dapat diteruskan pada orang lain. Bagaimana ceritanya?

Ketertarikan Ajeng, begitu panggilan karibnya, pada dunia merajut dimulai saat duduk di bangku SMP. Saat itu, ia sangat gandrung pada bacaan komik. Apalagi di tahun 1990-an hingga awal 2000, bacaan komik memang cukup menginvasi remaja.

“Kebetulan saya orang Klaten, eskul [ekstrakulikuler] merajut enggak ada. Pas kuliah di Jogja, tahun 2008, ada kafe di Jogja yang memberikan kesempatan bagi kami belajar merajut gratis. Saya ikut komunitas disana,” ujarnya saat ditemui di Poyeng Knit Shop 2 di Jalan Bantul 133, Jogja, Senin (1/2/2016).

Di dalam komunitas tersebut, Ajeng mengaku belajar merajut tingkat dasar. Selanjutnya, ketrampilan ini dikembangkan secara otodidak. Aneka situs di internet, buku maupun bacaan lain menjadi sahabatnya dalam menekuni ketrampilan ini.

Meski harus repot mencari informasi disana-sini, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM) ini merasa lebih puas. Menurut dia, kesempatan ini justru membuat kemampuannya meningkat signifikan.

“Kalau belajar dari orang, yang saya pelajari ya cuma ketrampilan dari dua saja. Kalau belajar sendiri, saya bisa mencoba banyak hal,” urai perempuan berjilbab ini.

Ditengah aktivitas kuliah yang padat, Ajeng mengaku otaknya tidak pernah berhenti memikirkan tentang pekerjaan. Ditambah ketrampilan ini, dia memberanikan diri membuka bisnis dibidang knitting.

“Saya awalnya mikir, kalau ada penghalang gimana? Bisa enggak? Lalu akhirnya yakin bisa. Karena saat mencoba knitting, saya merasakan sendiri kerajinan ini bisa ditekuni sampai tua. Apalagi di Jogja, belajar merajut itu susah. Dulu hanya orang tertentu atau keturunan Belanda yang bisa,” tambahnya.

Selain memikirkan hal tersebut, Ajeng juga mencoba berpikir sebagai konsumen. Menurut dia, mencari benang, jarum dan peralatan lain untuk merajut terbilang susah. Sederatan alasan inilah yang menggiring perempuan berusia 29 tahun ini mantap menekuni bisnis tersebut.

Awalnya, dia hanya menawarkan di kalangan teman-teman saja. Selanjutnya, dia merambah media sosial (medsos) seperti facebook hingga multplay [sekarang sudah tutup]. Ketika gaung semakin kencang, pada 2010 Ajeng mulai mendirikan toko pertama dengan nama Poyeng Knit Shop di Jalan Monjali, Sleman. Lima tahun kemudian, pada pertengahan tahun lalu, dia mendirikan toko kedua di sisi selatan.

Poyeng, kata dia, merupakan julukan yang diberikan teman-temannya. Mengenai asal usul, dia mengatakan tak tahu menahu alasan teman-teman memanggil seperti itu.

“Em, itu plesetan nama. Akhirnya diputuskan itu karena eye catching dan gampang diingat,” akunya.

Merajut, tambahnya, merupakan bentuk pembelajaran untuk bersabar. Selain itu, daya ingat orang yang gemar merajut cenderung lebih kuat. Sebab knitting memiliki pola-pola tertentu yang harus diteruskan dan diikuti.

Merajut juga dapat menjadi bahan obrolan. Dia dan teman-teman telah mempraktekan hal ini.

“Kalau naik bus dan kereta, kami juga suka knitting. Orang-orang yang melihat tertarik lalu mendekati kami dan mengajak ngobrol. Mereka tanya bagaimana merajut itu. Banyak pelanggan saya yang suka gitu,” terang dia.

Merajut dinilai Ajeng tidak akan termakan waktu. Apalagi saat ini hasil karya tangan sangat diakui dan dicari. Bahkan mereka lebih bangga mengado orang terkasih dengan kerajinan tangan buatan sendiri. Sebab nilai yang dihasilkan juga lebih tinggi.

“Usaha ini identitas jelas. Fun-nya tidak akan hilang. Saya juga ingin meneruskan usaha ini ke anak cucu. Kayaknya seru,” terangnya.

Medsos Kawan Sekaligus Lawan

Dunia bisnis, disebutnya mengalami perubahan besar. Dahulu iklan masih dilakukan secara konvensional. Seperti memanfaatkan media massa. Kini, promoa tersebut mulai ditambah dengan keberadaan internet.

Ajeng pun mengakui medsos memiliki daya besar untuk mendekatkan pada konsumen. Lingkupnya pun semakin luas, mencangkup berbagai kalangan dan usia.

Disatu sisi, medsos disebutnya juga memiliki kelemahan, yakni penjiplakan. Tidak menutup kemungkinan orang akan mengaku-aku sebagai si pembuat.

Kendati demikian Ajeng menegaskan tak pernah khawatir. Dia memiliki strategi tersendiri mengatasi masalah ini.

“Saya mulai menciptakan pola knitting. Misalnya menyatukan motif batik ke pola rajut. Rata-rata pola itu sudah saya terbitkan dalam empat buku,” jelasnya.

Ajeng menuturkan pola-pola motif tradisional tak mudah ditiru. Hanya mereka yang memiliki kemampuan menengah hingga ahli menirukan motif ini.

Meski terbilang sulit, Ajeng menyampaikan tak sungkan membagi ilmu yang dimiliki pada orang lain. Bahkan dia sengaja menyiapkan sudut khusus bagi mereka yang ingin belajar merajut. Fasilitas ini sama sekali tak dikenakan biaya.

“Dulu saya juga belajar gratis. Lalu belajar di internet juga enggak bayar. Saya ingin estafet ilmu yang didapat dapat diteruskan. Saya enggak mau itung-itungan,” tegasnya.

Mulai Produksi Produk Secara Mandiri

Awalnya, terang dia, bahan baku Poyeng Knit Shop dikirim dari Bandung. Sebagai pusat tekstil, daerah tersebut memang memiliki beragam pilihan, termasuk kebutuhan merajut. Sementara untuk alat, Ajeng menuturkan masih tergantung pada Tiongkok.

“Alat 100 persen impor dari Tiongkok. Kalau yang lain seperti benang dll dari Indonesia. Untuk benang, kalau di Indonesia banyak yang terjangkau dan bagus kok. Jika semua impor, kasihan konsumen karena jatuhnya mahal,” papar dia.

Meski selama ini mengandalkan produk-produk dari luar Jogja, sedikit demi sedikit Ajeng mulai memproduksi benang sendiri. Benang ini disebutnya dibuat dengan UMKM lokal asal Jawa Tengah (Jateng). Kualitas bahan pun disebutnya mampu bersaing dengan produk yang lain.

“Karena produksi benang sendiri, kita bisa main tebal tipis benang, struktur, warna, material dll seperti yang kita mau,” paparnya.

Rencana tahun depan, usaha ini akan membuka cabang diluar DIY. Hanya Ajeng belum dapat membagi lokasi toko tersebut. Kendati demikian, dia tetap ingin mempertahankan toko-toko di Jogja.

Ajeng juga memiliki mimpi usahanya ini dapat menjadi salah satu tujuan wisata. Orang dari berbagai daerah sengaja datang ke Jogja untuk mengunjungi dan mempelajari knitting di Poyeng Knit Shop.

“Semacam kafe rajut, kalau di Jogja mungkin sekarang seperti Raminten. Kami juga membuka toko kami untuk umum. Kalau ada yang mau pinjam untuk workshop, kegiatan komunitas dll, silakan saja,” paparnya.

Bagi Tugas dengan Suami

Bisnis yang dikembangkan Ajeng sejak kuliah ini “ditularkan” pada sang suami, Baskara Febrianto.

“Pertama memang cuma saya. Semakin lama jadi berpikir kalau dua kepala yang berpikir akan lebih bagus. Akhirnya suami keluar dari pekerjaan. Kami sama-sama garap ini dan akhirnya berani buka toko. Suami mengurus keuangan, saya bagian kreativitas,” ujarnya.

Ditanya mengenai bisnis ini, Baskara menyampaikan merajut memang identik dengan perempuan. Namun dia tak ingin melihat bisnis ini dari sisi gender. Sebaliknya, pria berambut panjang ini menilai ada prospek positif di masa depan.

“Apalagi di bisnis ini ada tokoh, yakni Ajeng sendiri. Jadi saya merasa potensinya akan besar,” papar dia.

Selain itu, dia melihat dunia merajut tidak akan pernah punah. Karena itu, dia semakin berani menekuni lini ini, terkhusus untuk jenis knitting.

Senada dengan istri, Baskara tidak ingin menumbuhkan Poyeng Knit Shop untuk diri sendiri. Karena itu ia ingin di setiap toko ada tempat khusus bagi mereka yang ingin belajar. Dia tak ingin mengukuhkan kebiasaan merajut zaman dahulu yang terkesan eksklusif.

Pemain knitting diakui Ajeng semakin banyak. Namun, dia dan suami lebih memilih melihat hal ini sebagai motivasi untuk berkembang.

“Saya sih inginnya tetap berjalan positif. Jangan sampai jegal-jegalan,” ujar dia.