PEKAN BUDAYA TIONGHOA YOGYAKARTA : Ini Ragam Acara PBTY 2016

JIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTOFESTIVAL NAGA BARONGSAI -- Peserta menunjukkan kebolehannya dalam memainkan naga barongsai pada acara "Jogja Dragon Festival" yang digelar di sepanjang jalan Malioboro, Yogyakarta, Senin (6 - 2) malam. Festival ini menandai perayaan Cap Go Meh dan menjadi bagian dari penutupan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakata (PBTY) VII/2012 yang berlangsung di kampung Ketandan.
17 Februari 2016 10:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta diwarnai sejumlah kegiatan.

Harianjogja.com, JOGJA-Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2016 yang digelar untuk memperingati Hari Raya Imlek ini menarik perhatian masyarakat. Diperkirakan ribuan orang akan memadati kawasan Malioboro dan Alun-alun Utara (Altar) untuk menyaksikan kesenian Tionghoa tersebut.

Panitia acara, Wawan mengatakan peserta karnaval dari Jogja Dragon Festifal, paguyuban Tionghoa, dan berbagai kesenian dari berbagai daerah nusantara.

“Seperti tahun lalu juga ada reog,” katanya, Selasa (16/2/2016).

Selain karnaval, selama PBTY berlangsung lima hari juga disediakan panggung kesenian dan panggung potehi yang digelar setiap hari sejak sore sampai malam di Kampung Ketandan. Panitia juga menyediakan 150 stan kuliner ala tionghoa di sepanjang Ketandan.

Menurut Ketua Jogja Chinese Art and Culture Center (JACC) Jimmy Sutanto PBTY tidak lepas dari upaya merayakan Tahun Baru Imlek. Berdasarkan kalender perhitungan bulan, Imlek sudah berlangsung sejak 2567 tahun lalu, yang jatuh tiap tanggal satu bulan satu di musim semi. Dalam kalender Masehi Imlek tahun ini bertepatan dengan tanggal 8 Februari.

Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, “Maka disebut Cap Go Meh. Cap artinya 10, Go itu lima dan Meh itu malam. Jadi puncak perayaan dilakukan pada malam ke-15 malam,” jelasnya. Malam ke-15 jatuh pada 21 Februari malam. Maka pucak PBTY ditandai dengan karnaval naga pada Minggu malam, nanti.

Jimmy menegaskan perayaan Imlek merupakan tradisi budaya yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu di Tiongkok dan tidak ada hubungannya dengan agama. Meski acaranya sama dengan acara-acara keagamaan, yakni pada hari malam hari pertama Imlek ramai. Kemudian tiga hari selanjutnya menjadi ajang kumpul-kumpul keluarga, seperti Idul Fitri (dalam Islam).

Lalu, anak-anak kecil dan pemuda yang belum menikah akan mendapat angpao berupa amplop kecil berwarna merah yang berisi uang, menandai sebagai bekal usaha di masa yang akan datang. Sementara orang tua yang sudah tidak bisa usaha juga mendapat angpao sebagai bentuk penghormatan.