BBM NELAYAN : Kesulitan Mengakses Bahan Bakar Jangan Terulang

Ilustrasi nelayan. (JIBI/Harian Jogja - Antara)
20 Februari 2016 14:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

BBM nelayan coba ditelusuri penyebabnya.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Nelayan Gunungkidul yang kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) diharapkan tak terulang.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, Bambang Sudaryanto menjelaskan, saat persoalan muncul, ia sempat ditelpon oleh Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul Rujimanto. Pada intinya mereka mengeluh tidak bisa mendapatkan BBM di SPBU yang ada di Wonosari.

“Saya juga sempat meminta berbicara ke petugas melalui telepon, namun petugas yang bersangkutan tidak mau menerima sehingga belum bisa dikonfirmasi,” ujarnya, Jumat (19/2/2016)

Dia berharap peristiwa ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak, baik itu petugas SPBU atau nelayan. Ia pun menyakini saat komunikasi di antara mereka berjalan baik, maka persoalan tersebut tidak akan pernah muncul.

“Intinya nelayan jangan bersulit,” tutur dia.

Agus menambahkan, pihaknya siap menerima keluhan dari nelayan. Jika memang ada keluhan, ia memohon agar masalah itu disampaikan kepadanya.

“Jika ada nelayan yang mengeluhkan dan langkahnya sudah sesuai prosedur dengan membawa surat rekomendasi saat akan membeli tapi tidak dilayani, maka bisa diusut dan mungkin saja SPBU itu ditutup,” tegasnya.

Terpisah, Ketua HNSI Gunungkidul Rujimanto meminta kepada Pemerintah Kabupaten agar memberikan perlindungan kepada nelayan. Salah satu bentuk perlindungan itu, dengan melakukan koordinasi dengan pengusaha SPBU di Gunungkidul.

“Kalau bisa aturannya lebih dipermudah lagi dan ini berlaku di seluruh SPBU. Apalagi subsidi BBM saat ini sudah dikurangi dan seharusnya proses itu tidak ribet,” ungkapnya.

Dia menambahkan, alasan yang diungkapkan petugas saat menolak tidak rasional. Pasalnya saat itu (Rabu, 17/2/2016), petugas tidak menanyakan surat rekomendasi dan hanya menjelaskan pembelian dengan jeriken tidak akan dilayani.

“Jelas tidak berdasar, karena hanya takut jika suatu saat ada operasi,” ungkapnya.