CUACA EKSTREM : Tanah Longsor Hingga Banjir Lahar Hujan Mungkin Terjadi

JIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTOBERSIHKAN SISA BANJIR: Warga Cokrodirjan bergotong-royong membersihkan lumpur yang masuk ke jalan dan perkampungan, Selasa (30 - 11). Banjir lahar hujan yang melanda sejumlah perkampungan di bantaran sungai Code menyisakan material vulkanik berupa pasir dan lumpur.
22 Februari 2016 06:20 WIB Sunartono Sleman Share :

Cuaca ekstrem terjadi karena ada perbedaan suhu dan angin monsun Asia.

Harianjogja.com, SLEMAN-Suhu yang cenderung hangat di permukaan laut selatan Jawa dan faktor angin monsun Asia yang tergolong masih kuat dapat menjadi penyebab hujan deras disertai angin kencang bakal terjadi di wilayah DIY tak terkecuali Kabupaten Sleman hingga akhir Februari 2016. Situasi ini berpotensi mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor.

Sekadar diketahui, angin monsun asia terjadi di Indonesia dari Oktober hingga April. Pada masa ini Indonesia mengalami musim hujan karena angin ini membawa massa uap air saat melewati samudera pacifik dan laut cina selatan.

Koordinator Operasional Pos Klimatologi BMKG DIY Joko Budiono mengimbau kepada masyarakat selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana yang diakibatkan hujan deras tersebut. Terutama menyiapkan lingkungan sekitarnya untuk mengurangi dampak bencana.

"Terutama di dataran tinggi atau pegunungan agar mengantisipasi tanah longsor dan banjir," ungkapnya.

Terpisah Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY Kusdaryanto mengatakan potensi adanya lahar hujan bisa terjadi di kawasan sungai yang berhulu di Merapi. Akantetapi tergantung pada curah dan durasi hujan tersebut.

Menurutnya, hingga saat ini Sungai Gendol tetap menjadi aliran yang paling diwaspadai sebagai jalur utama lahar hujan. Karena besarnya material yang masih tersimpan di hulu sungai ini. Menurut data 2014 hulu sungai yang dekat dengan Desa Kepuharjo, Cangkringan ini masih memiliki tabungan material sebanyak 14 juta meter kubik yang sewaktu-waktu bisa meluncur menjadi lahar hujan.

"Kedua, adalah Sungai Pabelan [Magelang] di sisi barat [Merapi] yang merupakan pertemuan tiga sungai ada [Sungai] Senowo, Apu dan Trising," ungkapnya.

Secara umum, lanjutnya, data 2014, sebanyak 40 juta meter kubik material masih mengonggok di beberapa sungai berhulu di Gunung Merapi. Akantetapi, diprediksi material itu telah berkurang menjadi sekitar 34 juta meter kubik. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat yang beraktifitas di sekitar sungai yang berhulu di Merapi agar meningkatkan kewaspadaan akan datangnya lahar hujan.

Sebelumnya, satu unit kendaraan bak terbuka terendam pasir dan satu truk terjebak di tengah aliran lahar hujan Sungai Gendol, Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Rabu (17/2) pekan lalu. Terkait hal itu, Kepala Desa Kepuharjo Cangkringan Heri Suprapto menegaskan, sejak awal pihaknya sudah mewanti-wanti kepada penambang manual maupun truk pengangkut pasir yang berada di dalam Gendol agar segera meninggalkan lokasi saat terjadi mendung.

"Kami akan memantau terus, terutama ketika mendung, sudah ada petugas yang mengingatkan melalui HT," tegasnya.