Advertisement
PARKIR DI JOGJA : Penataan Parkir Malioboro Dianggap Merampas Kesejahteraan Juru Parkir
Advertisement
Parkir di Jogja, di Jalan Malioboro sedang dilakukan penataan, namun juru parkir menganggap penataan akan mengganggu kesejahteraan mereka
Harianjogja.com, JOGJA – Paguyuban Parkir Malioboro kembali menunjukkan keberatan mereka atas rencana relokasi parkir. Kali ini spanduk sepanjang tujuh meter dibentangkan di tepi jalan Malioboro sebagai bentuk keberatan.
Advertisement
“Revitalisasi parkir Malioboro adalah perampasan dan bukti kegagalan pemerintah daerah dalam mensejahterakan rakyat,” begitu bunyi tulisan tangan dengan cat merah di selembar kain putih itu.
Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sigit Karsana Putra mengatakan spanduk itu merupakan pernyataan sikap mereka terhadap rencana relokasi kawasan parkir di Tepi Jalan Umum (TJU) Malioboro. Dia menilai Pemda tak serius dalam merevitalisasi parkir dan berpotensi mengganggu kesejahteraan para juru parkir (jukir).
Sigit menjelaskan, di area parkir Abu Bakar Ali yang rencananya menjadi lokasi baru mereka dijanjikan pendapatan Rp40.000 dari satu lokasi. Satu lokasi masih dibagi antara dua hingga tiga jukir sehingga dalam sehari mereka hanya bisa mengantongi tak sampai Rp20.000.
“Disini kami dari satu lokasi bisa Rp500 ribu. Bila dibagi ke jukir dan pembantu jukir masing-masing bisa dapat sekitar Rp100.000 sehari,” ungkap Sigit.
Dia mengakui jumlah itu memang tak rata di sepanjang Malioboro. Di beberapa titik yang lebih strategis jukir bisa mendapatkan lebih banyak. Di tempat lain bisa jadi angkanya lebih kecil. Namun sekecil-kecilnya jumlah yang didapat masih lebih besar ketimbang bila mereka direlokasi ke tempat parkir baru.
“Dari markir, saya bisa menguliahkan anak, kalau pindah kesana jangankan kuliah, makan saja susah. Kalau itu terjadi berarti Pemda gagal menjamin kesejahteraan kami,” kata dia.
Lebih lanjut, Sigit mengatakan di Malioboro saat ini terdapat 211 jukir. Sebanyak 95 di antaranya adalah jukir yang mendapatkan surat tugas. Sisanya merupakan pembantu jukir. Dalam sehari, parkir TJU Malioboro bisa menampung 4.800 unit kendaraan roda dua. Jumlah yang timpang bila dibandingkan kondisi parkir ABA yang hanya mampu menampung 2.600 kendaraan.
Pria yang sudah menjadi jukir sejak SMA itu mengatakan, dalam uji coba di malam tahun baru kemarin kondisi parkir ABA terbukti tak mampu menampung sepeda motor. Akibatnya muncul kantong-kantong parkir lain di gang-gang yang ada di sepanjang Malioboro. Terang saja pengendara motor akan lebih memilih kantong parkir yang lebih dekat dengan tujuan ketimbang parkir di ABA yang ada di ujung utara Malioboro.
Sigit pun menekankan, selama Pemerintah belum mampu menjamin mereka mendapatkan kesejahteraan yang sama dan menjamin tak akan ada kantong parkir baru, para jukir Malioboro akan tetap menolak direlokasi. Mereka pun siap bila diminta berdialog untuk mencari jalan keluar yang lebih baik.
“Jangankan Malioboro. Ngurus Titik Nol yang dulu katanya tidak boleh untuk parkir saja tidak bisa. Sekarang ada lagi kan motor yang parkir disana,” tegas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Menteri KKP Pingsan Saat Pelepasan Jenazah Korban ATR 42-500
Advertisement
Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan
Advertisement
Berita Populer
- 3 Acara di DIY Masuk Katalog Kharisma Event Nusantara, Ini Daftarnya
- Angin Kencang Terjang DIY, BPBD Catat 2 Warga Sleman Meninggal Dunia
- Taman Budaya Bantul Dirancang Jadi Pusat Budaya dan Wisata
- Pemkab Bantul Perluas TK Negeri untuk Pendidikan Anak Usia Dini
- Dua Pengendara Motor Meninggal Tertimpa Pohon Randu di Lembah UGM
Advertisement
Advertisement



