ANGKUTAN UMUM BANTUL : Penurunan Tarif Sulit Diterapkan

28 Februari 2016 11:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Angkutan umum Bantul, soal tarif penumpang dan sopir lebih tahu.

Harianjogja.com, BANTUL-Surat edaran penurunan tarif angkutan umum sebesar 3% dari tarif batas bawah sulit diterapkan di Bantul.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul Suwito mengaku, kondisi transportasi umum di Bantul selama ini memang berbeda dengan daerah lain. Di Bantul, hubungan antara penumpang dan sopir angkutan umum seperti sudah terjalin saling pengertian terkait tarif itu.

“Entah sadar atau tidak, penumpang biasanya rela membayar lebih sesuai tarif yang diterapkan,” kata Suwito saat ditemui di kantornya, Jumat (26/2/2016) pagi.

Dikatakannya, sejak pertengahan Februari lalu, bersama Dishub DIY pihaknya sudah mensosialisasikan surat edaran penurunan tarif tersebut kepada pihak-pihak terkait. Meski begitu, pihaknya mengaku tak bisa memaksa pengelola angkutan umum untuk menurunkan tarifnya. Pasalnya, ia menyadari, dinamika transportasi umum di Bantul tak setinggi di daerah lainnya, seperti Sleman dan Kota Jogja.

“Angkutan umum di Bantul ini jumlahnya sangat sedikit. Hanya ramai saat liburan saja. Mungkin kalau tarifnya diturunkan, bisa-bisa mereka akan kolaps,” imbuhnya.

Oleh karena itu, tanpa harus diturunkan, pengguna armada transportasi umum di Bantul menurutnya tak akan banyak terpengaruh. Pasalnya, kebanyakan masyarakat Bantul menganggap jasa angkutan umum macam bus dan angkudes jauh lebih praktis dan murah jika dibandingkan dengan moda transportasi umum swasta macam ojek.

“Itulah sebabnya, meski penurunan tarif itu tak dilakukan, saya rasa tak begitu berdampak pada penumpang,” ucap Suwito.

Sekretaris Jendaral Dewan Pengurus Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY, Didit Adi Prasetyo justru mengaku belum mengetahui adanya edaran terkait dengan penurunan tarif angkutan umum tersebut.

Meski begitu, ia tak menampik, kebijakan tersebut akan susah diterapkan mengingat saat ini beban dari pemilik angkutan umum semakin berat.

“BBM memang turun, tetapi spare part tidak mau turun justru naik terusbagaimana,” ujarnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Murtijo, salah seorang sopir bus Koperasi Abadi jurusan Jogya-Parangtritis. Meski harga bahan bakar minyak (BBM) untuk angkutan umum turun, tetapi ia mengaku para sopir dan pemilik angkutan umum masih terpuruk. Mahalnya biaya spare part serta minimnya penumpang menjadi penyebab usaha mereka semakin memburuk. Jika mereka dipaksa untuk menurunkan tarif, nampaknya akan semakin membuat mereka kolaps.

“Mas lihat saja sendiri, sekarang kondisinya memprihatinkan,” tuturnya, Jum’at (26/2).

Oleh karena itu, kini para pemilik angkutan umum tak memiliki gairah lagi menjalankan armadanya. Murtijo mengungkapkan, penurunan BBM yang cukup banyak ini juga tak mampu menolongnya. Alasannya jelas, setiap tahun jumlah penumpang yang menggunakan angkutan umum terus mengalami penurunan. Saat ini, tingkat keterisian armadanya hanya 30% dari jumlah kursi yang ada.

Padahal, jalur Parangtritis yang merupakan jalur yang paling ramai jika dibandingkan dengan jalur yang lain. Namun hal tersebut tak lantas membuat armadanya penuh dengan penumpang. Karena jumlah penumpang terus menurun, jumlah armada yang beroperasipun terus menurun akibat tak mampu menutupi biaya operasional kendaraan.

Penurunan harga solar ini juga tak banyak berpengaruh. Paling banyak sopir akan membawa uang Rp20.000 dalam sehari, akibatnya jumlah armada yang beroperasi tetap terus menurun dari tahun ke tahun.

"Banyaknya kendaraan pribadi dan gampangnya mendapatkan sepeda motor itu penyebab utamanya," ujarnya.