Advertisement

TRADISI GUNUNGKIDUL : Festival Sompil, Munculkan Kenangan Santapan Masa Lalu

David Kurniawan
Senin, 25 April 2016 - 14:55 WIB
Nina Atmasari
TRADISI GUNUNGKIDUL : Festival Sompil, Munculkan Kenangan Santapan Masa Lalu

Advertisement

Tradisi Kulonprogo berupa makanan sompil ingin dilestarikan

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Festival Sompil untuk pertama kalinya digelar di Kecamatan Patuk, tepatnya di Dusun Ngasemayu, Salam pada Minggu (24/4/2016). Kegiatan ini selain untuk mengenalkan potensi wisata juga memperkenalkan makanan tradisional asli dari Patuk.

Advertisement

Bagi masyarakat sekitar festival mendengar kata sompil pasti akan tertuju dengan makanan tradisional lontong yang berbetuk segitiga dari adonan beras yang dibungkus dengan daun pisang, kemudian dicampur dengan kuah sayuran.

Tapi bagi masyarakat luar, istilah tersebut masih terasa asing, karena saat mendengar kata tersebut pastinya akan tertuju pada siput air tawar yang sering dijumpai di sungai.

Diadakannya festival sompil salah satunya untuk mengenalkan keberadaan makanan tradisional asli Patuk yang saat ini sudah hampir hilang. Keberadaan sompil sudah ada sejak lama. Bahkan di era 60-70an makanan ini sangat mudah ditemukan di pasaran.

Salah seorang pembuat sompil, Supatmijah mengatakan, untuk saat ini pembuat sompil sudah jauh berkurang. Dia tidak tahu pasti penyebab berkurangnya pembuat, namun demikian hal itu tak menghalanginya untuk membuat  makanan itu.

“Sekarang Sompil hanya dimasak waktu tertentu. kalau pun ada yang jual sudah dipadukan dengan makanan lainnya seperti opor ayam, sate atau makanan lainnya,” katanya kepada wartawan, kemarin.

Dia menjelaskan, keahlian membuat sompil diterimanya sejak turun temurun. Supatmijah mengaku pertama kali membuat sompil diajari oleh neneknya. “Saya sudah membuat sompil 40 tahun lebih dan saya akan terus membuat makanan ini,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang pengunjung Kismaya Wibawa mengaku baru pertama kalinya menikmati sompil. Meski berasal dari satu kabupaten, namun ia baru dengar sehingga tertarik datang ke festival ini. “Saya tadi habis tiga bungkus,” katanya.

Dia pun berharap festival serupa bisa digelar lagi. Namun demikian, biar lebih efektif kegiatan ini jangan sampai terpencar-pencar dan harus diadakan di satu tempat.

“Kelihatannya akan lebih bagus digelar Festival Makanan Tradisional Gunungkidul. Mungkin di daerah lain masih banyak masakan seperti sompil yang belum dikenal oleh masyarakat secara luas,” kata pemuda asal Wonosari ini.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Badingah menyambut baik diselenggarakannya Festival Sompil. Dia pun berharap acara ini bisa mendongkrak kemajuan sektor pariwisata yang ada. “Patut diapresiasi. Apalagi saya dengan dana yang digunakan merupakan swadaya dari masyarakat,” katanya.

Di festival ini pengunjung dikenakan bea masuk Rp5.000. Sebagai ganti dari uang masuk itu, pengunjung akan mendapatkan seporsi sompil beserta lauknya mulai dari sayur lombok (cabai), tahu dan tempe bacem, serta kerupuk.

Selain itu guna memeriahkan acara juga diselenggarakan atraksi jathilan dan stand untuk memperkenalkan potensi wisata kecamatan Patuk, seperti hasil olahan coklat dan pengembangan Bunga Krisan yang ada di Gunung Api Purba Ngelanggeran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Arus Tol MKTT Melonjak Tajam Akses Bandara Jadi Paling Padat

Arus Tol MKTT Melonjak Tajam Akses Bandara Jadi Paling Padat

News
| Sabtu, 04 April 2026, 21:57 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement