HARI JADI GUNUNGKIDUL : Sindir Pemkab, IPG Kunjungi Makam Demang Wonopawiro

Seorang pelukis menggambar sketsa tentang upaya Demang Wonopawiro saat babat alas untuk mendirikan Kota Wonosari di Pasar Desa dekat komplek Ki Demang dimakamkan. Jumat (27/5/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
28 Mei 2016 13:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Hari jadi Gunungkidul dimaknai berbeda dengan berziarah.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Belasan pelukis yang tergabung dalam Ikatan Perupa Gunungkidul berziarah ke makam Ki Demang Wonopawiro. Selain itu, kelompok ini juga melakukan teatrikal laku bisu dan melukis tentang seluk beluk Ki Demang.

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk sindiran kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Sejak dulu di setiap peringatan hari jadi, nama Demang Wonopawiro tidak pernah terdengar. Padahal dari sisi sejarah, ia memiliki peran besar dalam babat alas sebagai cikal bakal berdirinya Gunungkidul.

Ketua IPG Herlan Susanto mengatakan, kegiatan yang digelar bukan bermaksud mendiskreditkan pemkab. Hanya saja, kegiatan itu sebagai bentuk akualisasi diri seniman terhadap keberadaan Demang Wonopawiro yang saat ini makin tersisihkan. Pasalnya ziarah yang dilakukan sebatas mengunjungi makam mantan bupati, tanpa melihat peran dari Ki Demang.

Dia mengungkapkan, berdasarkan cerita dari Babad Nongko Doyong, Ki Demang memiliki peran dalam berdirinya Kabupaten Gunungkidul. Tokoh yang semasa muda dikenal dengan nama Bagus Damar merupakan orang yang melakukan babat alas dan mengubahnya menjadi sebuah wilayah cikal bakal Kota Wonosari, yang saat ini dikenal sebagai ibukota Gunungkidul.

“Dia juga memiliki peran yang sentral, tapi posisinya seakan-akan tidak ada. Hal ini terbukti dalam setiap peringatan yang tak tersentuh sama sekali,” kata Herlan kepada wartawan, Jumat (27/5/2016).

Dia pun berharap dengan kegiatan ini, maka pemkab bisa lebih perhatian lagi kepada Demang Wonopawiro. Pasalnya, ia juga merupakan tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan Gunungkidul.

“Kita tidak bisa lepas dari asal usul kita, sehingga jangan sampai sejarah itu makin terlupakan,” ungkapnya.

Herlan menambahkan, dalam aksi teatrikal ini, tidak hanya melakukan ziarah ke makam Ki Demang. Sebab, sejumlah pelukis mengkreasikan ekspresi itu melalui goresan kanvas mengenai seluk beluk Demang Wonopawiro mulai dari cerita babat alas hingga pusaka yang ia miliki.

“Ada juga seorang teman yang melakukan laku bisu [berjalan dengan diam] menuju ke makam Ki Demang,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Gunungkidul Suharno memberikan apresiasi atas inisiatif dari IPG menggelar aksi ini. Bahkan usai menghadiri upacara hari jadi, ia menyempatkan diri melihat kegiatan tersebut.

Dia mengatakan, dari kegiatan ini bisa diambil hikmah karena peran dari Demang Wonopawiro tidak bisa dikesampingkan. Menurut Suharno apa yang dilakukan IPG juga sebagai sebuah sentilan bagi pemkab karena selama ini terkesan mengesampingkan peran dari sosok legenda di Desa Piyaman itu. Suharno pun mengaku akan mengusulkan ada perubahan acara di setiap hari jadi, salah satunya memasukan agenda ziarah ke makam Ki Demang sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya selama ini.