BANDARA KULONPROGO : Terima Ganti Rugi, Warga Terlanjur Konsumtif, Ada yang Beli Moge Tunai

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Nurul Hidayat/JIBI - Bisnis)
07 Oktober 2016 16:18 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Bandara Kulonprogo memberikan ganti rugi pada warga yang terdampak

Harianjogja.com, KULONPROGO-Sejumlah warga terdampak pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) terlanjur menggunakan dananya untuk kebutuhan konsumtif. Pasalnya, dana ratusan juta hingga miliaran rupiah tersebut banyak yang sudah langsung dibelikan kendaraan tanpa banyak pertimbangan.

Hal tersebut dinyatakan oleh Angga Octo Pratama, Certified Financial Planner (CFP) dari Alumni MM UGM yang merupakan pendamping keuangan untuk warga terdampak yang ditugaskan oleh PT Angkasa Pura 1.

Berdasarkan pendekatan awal yang dilakukan timnya kepada sejumlah warga terdampak, diketahui bahwa ada sejumlah warga yang sudah terlanjurkan menghabiskan uangnya untuk membeli kendaraan berharga ratusan juta yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

“Bahkan ada yang sudah terlanjur beli Harley, dibayar tunai pula,” jelasnya ketika ditemui di Balai Desa Palihan, Kamis (6/10/2016).

Ia mengakui bahwa hal tersebut merupakan contoh bahwa pendampingan keuangan untuk warga sedikit terlambat dibandingkan kehadiran sales-sales produk di wilayah pencairan ganti rugi. Untuk sejumlah kasus yang terlanjur menghabiskan uangnya tersebut, tim pendamping keuangan kemudian hanya bisa memberikan nasihat untuk yang yang tersisa.

Namun, ia menambahkan bahwa jika terpaksa maka kemungkinan akan disarankan pula kepada warga untuk menjual kembali kendaraannya. Angga menjelaskan bahwa timnya sedikit kesulitan mengubah pola pikir warga mengenai pengelolaan keuangan. Selain itu, pola konsumtif tersebut juga banyak dipengaruhi oleh keinginan anak-anaknya.

“Umumnya uangnya untuk anak-anaknya, anaknya itulah yang kemudian malah banyak maunya,” jelasnya.

Umumnya, warga menganggap bahwa uang yang digunakan untuk membeli barang-barang tersebut tak seberapa dibandingkan jumlah ganti rugi yang diterima. Padahal, masih ada sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi warga seperti pengadaan kembali lahan, rumah,dan pekarangan.