HUT KOTA JOGJA : Mahasiswa Minta Kado Air untuk Rakyat

Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar aksi unjuk rada di Titik Nol Kilometer, Jumat (7/10/2016) petang. (Arief Wahyudi/JIBI - Harian Jogja)
08 Oktober 2016 10:28 WIB Jogja Share :

HUT Kota Jogja dijadikan momentum para mahasiswa untuk menggelar aksi unjuk rasa

Harianjogja.com, JOGJA - Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) menggelar aksi unjuk rasa di Titik Nol Kilometer, Jumat (7/10/2016) petang.

Aksi ini bertujuan merefleksikan kembali Kota Jogja yang di saat bersamaan sedang merayakan hari jadinya ke-260 tahun.

Mahasiswa mengkreasikan kritikan mereka dengan beragam aksi. Pada intinya mereka memintakan kado untuk rakyat kepada pemerintah Kota Jogja berupa air bersih. Pasalnya, selama ini mereka mereka mengganggap ketersediaan air di kota ini sudah habis dieksploitasi oleh ratusan hotel.

"Kami minta air untuk rakyat. Sekarang ini bukan Jogja Istimewa tapi Jogja yang Istimewa Hotelnya," demikian petika orasi yang disuarakan mahasiswa tepat di tengah perempatan Titik Nol.

Para mahasiswa dalam aksi ini juga membawa peralatan rumah tangga sebagai simbol kekeringan. Mereka juga membawa baju hitam sebagai simbol refleksi duka.

"Perayaan ulang tahun seharusnya tidak selalu harus dirayakan secara meriah. Justru momen untuk merefleksikan diri dan merenung. Khusus untuk Kota Jogja kami sepakat menyebut bahwa kota ini sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Sehingga kita sebaiknya berduka atas kondisi ini," papar Presiden BEM UGM Ali dalam keterangannya saat aksi itu,

Penguasa di Kota Jogja, papar Ali, seharusnya peka mdelihat kodisi wilayahnya yang sedang kacau akibat maraknya pembangunan hotel, apartemen dan kondotel.

"Jangan sampai hanya untuk kepentingan segelintir kelompok, maka masyarakat Jogja dikorbankan," tandasnya.

Sementara Azzami, salah satu aktivis yang ikut dalam aksi ini    juga menganggap penguasa Kota Jogja saat ini tidak memihak masyarakat bawah.

"Kami tidak ingin Kota Jogja justru menjadi penindas bagi masyarakatnya sendiri. Pemimpin Kota Jogja harus sadar dan segera membenahi kota ini. Jangan justru menjauhkan masyarakat dari akses air bersih," jelas dia.

Selanjutnya orasi menyinggung masalah figur pimpinan yang akan bertarung dalam pemilihan kepala daerah.

Mereka mengingatkan agar calon walikota dan wakilnya kelak harus bisa mengembalikan akses air bersih ini untuk rakyat.