RESTORAS GUMUK PASIR : Alami Nasib Sama, Warga Watu Kodok Beri Dukungan Warga Parangtritis

Ngatemi sedang menggarap lahan pertanian di Zona inti Gumuk Pasir di sekitar pantai Parangkusumo, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul. Kamis (18/8/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI - Harian Jogja)
08 Oktober 2016 11:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Restorasi gumuk pasir masih alami penolakan.

Harianjogja.com, BANTUL -- Warga pesisir DIY yang selama ini terancam tergusur dari tempat tinggalnya lantaran kebijakan pemerintah dan klaim atas Sultan Ground (SG), pada Jumat (7/10/2016) berkumpul di area Pantai Cemara Sewu, Desa Parangtritis, Kretek, Bantul. Mereka memberikan dukungan kepada warga Parangtritis yang terancam tergusur akibat kebijakan restorasi gumuk pasir.

Tupar warga Pantai Watu Kodok Gunungkidul mengatakan, sengaja datang ke Parangtritis untuk memberikan dukungan kepada warga setempat yang terancam digusur oleh pemerintah.

“Kami ini sama-sama senasib. Di Watu Kodok kami juga mengalami hal yang sama,” tutur Tupar ditemui di Parangtritis, Jumat (7/10/2016).

Ia menegaskan, warga berhak tinggal di pesisir yang mereka anggap sebagai tanah negara.

“Enggak ada Sultan Ground ini tanah negara sesuai UUPA [undang-undang Pokok Agraria]. Warga memang tidak punya sertifikat tanah, tapi Kraton juga tidak punya sertifikat tanah SG,” paparnya lagi.

Koordinator ARMP Watin mengatakan, warga pesisir yang menjadi korban penggusuran pada Jumat berkumpul untuk menguatkan diri dan berdialog menghadapi rencana penggusuran. Selain kelompok warga korban penggusuran, mahasiswa juga bergabung dalam aksi itu.

Rencananya kata Watin, para korban penggusuran di seluruh DIY akan bergabung bersama pengemudi bentor dan mahasiswa untuk berdemonstrasi dan menduduki kantor Gubernur DIY.

“Kapan aksi akan dilakukan kami masih merapatkan hari ini sembari menunggu Satpol PP datang. Katanya mau memberi surat teguran kedua. Kami memang berencana menduduki kantor gubernur,” jelas Watin.