KELANGKAAN ELPIJI : Pertamina Tambah Alokasi Gas Melon

Foto ilustrasi gas si melon (JIBI/Bisnis - Dok.)
11 Oktober 2016 01:28 WIB Kusnul Isti Qomah Sleman Share :

Kelangkaan epiji untuk 3 Kg diatasi dengan penambahan kuota.

Harianjogja.com, JOGJA -- Pada Oktober 2016, PT Pertamina (Persero) menambah alokasi elpiji tiga kilogram 6,3 % menjadi 312.68 metric ton. Kebutuhan konsumen DIY di lapangan akan terus dipantau.

Area Manager Communication & Relations PT Pertamina MOR IV Jawa Bagian Tengah (JBT) Suyanto mengungkapkan, pada September 2016, untuk wilayah DIY, Pertamina mencatat adanya peningkatan konsumsi elpiji 3 kg hingga 3% jika dibandingkan dengan rata-rata normal tahun 2016. Berdasarkan pantauan tim di lapangan, hal tersebut dikarenakan meningkatnya kegiatan rumah tangga pada momen Iduladha, dan tingginya tren seremoni keagamaan.

"Seperti pernikahan, mengingat pada Oktober sudah memasuki Bulan Suro pada kalendar adat Jawa di mana tidak diperkenankan menggelar upacara pernikahan," kata dia, Senin (10/10/2016).

Namun demikian, dalam menjalankan fungsi Public Service Obligation (PSO) salah satunya dalam hal pendistribusian elpiji 3 kg sebagai barang bersubsidi, Pertamina terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Monitoring lapangan bersama Pemerintah Kota dan Hiswana Migas menjadi salah satu upaya yang dilaksanakan oleh Pertamina guna memastikan elpiji 3 kg tersedia bagi masyarakat yang membutuhkan, selain terus melakukan kajian terkait tren konsumsi LPG masyarakat.

Ia menjelaskan, sebagai barang bersubsidi, elpiji 3 kg sejatinya merupakan komoditas yang diperuntukan bagi masyarakat miskin dan usaha kecil.

"Untuk itu, kami terus mengimbau masyarakat yang sudah tidak tergolong miskin lagi dan pelaku bisnis hotel, restoran, serta industri menengah ke atas lainnya untuk dapat segera beralih ke produk LPG non subsidi," kata dia.

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Bumi dan Gas (Hiswana Migas) DIY Siswanto mengungkapkan, kebutuhan elpiji mulai mengalami kenaikan sejak Iduladha. Selain itu, banyak masyarakat yang menggelar hajatan sehingga kebutuhan ikut meningkat. "Lalu karena musim hujan, jadi masyarakat yang tadinya menggunakan kayu atau arang beralih ke elpiji karena lebih praktis," ujar dia.

"Dengan adanya peningkatan ini, kami mengimbau agar masyarakat yang mampu dan restoran yang besar untuk tidak menggunalan elpiji tiga kg dan beralih ke 5,5 kg atau 12 kg," ujar dia.