PENDIDIKAN BANTUL : Warga Menolak Penggabungan Sekolah, Sejarah Jadi Alasan

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra KumalaPelajar SD berjalan berangkat sekolah di Beton, Kampung Sewu, Solo, Senin (6 - 1). Pelajar kembali bersekolah setelah libur semester.
13 Oktober 2016 22:55 WIB Irwan A Syambudi Bantul Share :

Pendidikan Bantul berupa penggabungan sekolah mendapat penolakan.

Harianjogja.com, BANTUL — Puluhan warga yang terdiri dari pemuda, wali murid, dewan sekolah, dan Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Bantul lakukan audiensi ke Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul. Mereka menolak adanya penggabungan sekolah yang direncanakan oleh pemerintah.

Ketua Dewan Sekolah SD N 1`Jatimulyo Badrudin menegaskan warga Jatimulyo menolak rencana pemerintah untuk menggabung SD N 1 Jatimulyo dengan SD yang lain. Pasalnya kata dia SD yang sudah berdiri sejak 1947 itu dinilai memiliki nilai sejarah bagi warga.

“Ada warga dari tiga dusun yaitu Tegallawas, Maladan, dan Gayam yang menghendaki SD yang ada di wilayah kami tidak digabung karena itu merupakan SD tertua dan ada sejarah tersendiri bagi masyarakat,” kata dia, saat mendatangi Kantor DPRD Bantul, Kamis (13/10/2016).

Alasan lain penolakan warga terhadap rencana pemerintah melakukan penggambungan adalah karena jarak sekolah nantinya akan menjadi terlalu jauh. Kata dia jarak sekolah lain yang berdekatan dengan SD N 1 Jatimulyo jaraknya sejauh tiga kilometer. Adapun SD yang terdekat dengan SD N 1 Jatimulyo merupakan SD yang berda di wilayah Kabupaten Gunungkidul, karena Desa Jatimulyo berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul.

“Jaraknya terlalu jauh dengan SD yang lain, sehingga saya kasihan dengan anak-anak karena mereka bisa menempuh perjalanan hingga satu jam lebih. Kami tidak rela jika SD tersebut digabung, kami akan berjuang bersama dengan tokoh masyarakat,” ujarnya.