ANGIN KENCANG BANTUL : Surat Siaga Darurat Segera Disampaikan ke BNPB

Ilustrasi Angin Puting Beliung
16 Oktober 2016 08:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Angin kencang Bantul terjadi Jumat (14/10/2016) petang

Harianjogja.com, BANTUL -- Jumlah titik terdampak bencana putting beliung yang terjadi Jumat (14/10/2016) petang lalu bertambah menjadi 42 titik. Semula pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul hanya menemukan 12 titik saja, namun setelah dilakukan penyisiran ternyata area dampak puting beliung lebih luas dari yang diperkirakan.

Hal itu disampaikan Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto. Ditemui di sela-sela pemantauan kondisi daerah terdampak Sabtu (15/10/2016) siang, ia membenarkan akan adanya perluasan titik tersebut. Bahkan ia pun tak menampik, jumlah titik terdampak itu akan terus bertambah.

(Baca Juga : http://www.harianjogja.com/baca/2016/10/16/angin-kencang-bantul-titik-terdampak-puting-beliung-meluas-761027">ANGIN KENCANG BANTUL : Titik Terdampak Puting Beliung Meluas)

Lantaran masih terus melakukan penyisiran, ia belum berani memastikan berapa kerugian yang diderita warga akibat terjangan puting beliung itu. Sementara, ia hanya memastikan sebanyak 12 tiang listrik patah, satu unit rumah mengalami kerusakan berat, dan belasan rumah mengalami rusak sedang.

Kondisi inilah yang mendorongnya untuk segera mendirikan posko siaga darurat bencana Kabupaten Bantul. Untuk itu, pihaknya akan segera mengajukan surat siaga darurat kepada pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui BPBD DIY.

Sementara Kepala BPBD DIY Krido Suprayitno yang juga turut hadir memantau lokasi menegaskan, kejadian di Bantul tersebut adalah bukti bahwa peta rawan bencana di DIY kini telah mengalami perubahan. Pasalnya, kawasan Bambanglipuro, dan sekitarnya, selama ini dikenal sebagai wilayah yang bebas dari terjangan angin kencang. Oleh karena itulah, pihaknya kini meminta semua pihak terkait mulai dari BPBD Kabupaten/Kota hingga relawan di tingkat Kampung Tanggap Bencana (KTB) lebih mempersiapkan diri.

“Dengan kondisi ini, antisipasi kami tidak lagi reaktif, melainkan lebih partisipatif. Kami tak bisa bekerja sendiri. Peran masyarakat sangat kami butuhkan,” ucapnya.

Terkait perubahan peta rawan bencana itu sendiri, ia tak menutup kemungkinan juga terjadi di wilayah lain se-DIY. Gejala anomaly menyebabkan cuaca menjadi semakin sulit diprediksi. Itulah yang menurutnya memicu terjadinya bencana di titik-titik yang selama ini dianggap aman.

“Pergeseran peta rawan bencana itu sekarang sudah terjadi, meski tidak di semua daerah. Tapi kami himbau, semua daerah harus waspada. Apalagi, BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika] sudah merilis bahwa sekarang sudah mulai memasuki musim penghujan dengan cuaca yang cukup ekstrim,” terang Krido.