KELANGKAAN ELPIJI : Operasi Pasar Elpiji 3 Kg Diharapkan Lebih Merata

Salah satu warga tengah mengantre saat Operasi Pasar (OP) gas elpiji 3 kilogram di halaman Kecamatan Imogiri, Senin (17/10/2016) siang. (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
18 Oktober 2016 14:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Kelangkaan gas ditindaklanjuti dengan operasi pasar

Harianjogja.com, BANTUL- Operasi Pasar (OP) gas elpiji 3 kilogram yang digelar oleh Pertamina di 4 titik kecamatan se-Bantul, Senin (17/10/2016) dinilai tak tepat sasaran. Hal itu menyusul tak adanya sosialisasi dari pihak Pemkab Bantul terkait digelarnya OP tersebut.

Diakui sendiri oleh Camat Imogiri Sigit Subroto, OP kali ini memang tak bisa menyentuh keseluruhan warga di wilayahnya. Pasalnya, sosialisasi kepada warga baru bisa ia lakukan beberapa jam jelang OP. Adapun kabar digelarnya OP itu sendiri diterimanya dari Pemkab Bantul, Minggu (16/10/2016) sore.

Diakuinya, sejak dua bulan terakhir, ia sudah banyak mendengar keluhan warganya terkait kelangkaan gas elpiji 3 kilogram tersebut. Akibatnya, harga gas elpiji 3 kilogram itu pun menjadi tak terkendali.

Di wilayah Kecamatan Imogiri, dari total 70.543 jiwa penduduknya, sebanyak 40% diantaranya memang merupakan konsumen tetap gas elpiji 3 kilogram.

Oleh sebab itu, dengan jumlah 560 tabung yang disebar melalui OP itu, ia menilai masih jauh dari kata cukup. “Kami berharap, ada OP lagi,” katanya.

Hal itu dibenarkan oleh Bintoro, warga Desa Karangtalun. Ditemui saat mengantre, dirinya yang merupakan produsen rumahan bakpia itu mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram sejak hampir sebulan lalu.

Lantaran sangat membutuhkannya, ia memang bertekad membeli gas elpiji 3 kilogram itu dengan harga berapapun. Diakuinya, harga tertinggi gas yang ia beli dari pengecer selama ini mencapai Rp27 ribu. “Mahal sekali. Tapi bagaimana lagi, namanya orang butuh,” ujarnya.

Terkait OP yang digelar di halaman Kecamatan Imogiri itu sendiri, ia menyayangkan tidak adanya sosialisasi. Diakuinya, ia baru mendengar kabar OP itu hanya beberapa menit sebelum truk pengangkut tabung gas itu tiba.

“Beruntung saya punya anak yang bekerja di sini  [Kecamatan Imogiri]. Kalau tidak ya saya mungkin tidak tahu kalau ada OP di sini,” keluhnya.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Sulistyanta menbenarkan bahwa rencana digelarnya OP itu terkesan mendadak. Oleh karena itulah wajar adanya jika pihaknya tak bisa melakukan sosialisasi dengan maksimal.

Dijelaskannya, rencana OP itu baru diputuskan setelah pihaknya melayangkan surat penambahan stok tabung kepada pihak Pertamina, Jumat (14/10/2016) lalu. Penambahan stok itu setidaknya dilakukan dua cara. Selain OP, penambahan stok itu sudah dilakukannya dalam bentuk fakultatif melalui agen. “Cara lainnya ya dengan OP ini,” ucapnya.