Cahya Supriadi Perkuat Timnas Indonesia, PSIM Jogja Dukung Penuh
Kiper PSIM Jogja Cahya Supriadi resmi dipanggil memperkuat Timnas Indonesia di ASEAN Championship Hyundai Cup 2026 usai menerima surat dari PSSI.
Ilustrasi pengemis (Dok/JIBI)
Perda gepeng masih sulit diterapkan sepenuhnya
Harianjogja.com, JOGJA -- Keberadaan ratusan pengemis yang hilir mudik di DIY terutama di ruas jalan Kota Jogja rupanya digerakkan oleh mafia. Keterangan itu terungkap saat dengar pendapat dalam rangka menerima masukan masyarakat terkait pembahasan Rakepwan tentang rekomendasi DPRD DIY terkait pengawasan Perda DIY No. 1/2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis, Selasa (18/10/2016).
(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/10/07/perda-gepeng-ratusan-gelandangan-pengemis-bakal-terusir-dari-penampungan-di-sewon-ini-alasannya-759216">PERDA GEPENG : Ratusan Gelandangan & Pengemis Bakal Terusir dari Penampungan di Sewon, Ini Alasannya)
Peneliti Senior Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM Muhadjir menjelaskan upaya pemberantasan harus dilakukan sesuai aturan hukum dengan melibatkan seluruh aparat penegak hukum. Pemberantasan mafia pengemis ini pun tidak bisa hanya dengan menangkapi gepeng di lapangan. Tetapi, mestinya aktor intelektualnya harus ditemukan karena mereka menjadi biang banyaknya pengemis di lapangan.
"Jadi dari mana mereka berasal itu harus dicari, yang ditindak jangan yang di lapangan tetapi orang yang melakukan itu," kata dia.
Sekretaris Komisi D DPRD DIY Muhammad Yazid menyatakan, fenomena pengemis yang digerakkan mafia memang harus segera diberantas. Oleh karena itu pihaknya mendorong eksekutif untuk segera menyelesaikan Pergub sebagai tindak lanjut dari Perda DIY No. 1/2014, agar penegakan hukum secara keseluruhan bisa dilakukan.
"Selain itu, kami ingin mendorong agar gepeng yang sudah ditampung itu bisa ditangani secara serius, terutama proses agar mereka tidak kembali lagi mengemis," ungkap dia.
Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi mengatakan, pihaknya tidak bisa mengklaim adanya mafia karena tidak memiliki bukti. Akantetapi, ia mengakui akan adanya upaya mobilisasi pengemis yang datang ke Jogja. Mereka didrop dari luar daerah untuk secara khusus mengemis.
"Kalau dimobilisassi itu iya, drop-dropan, tetapi itu mafia atau tidak, kami butuh bukti otentik," ucapnya.
Menurut Untung, pihaknya telah mendapatkan data adanya rombongan pengemis yang datang pagi hari kemudian berganti pakaian di sejumlah Masjid sebelum mengemis. Selain itu, gerombolan pengemis biasanya menyasar sejumlah keramaian pasar terutama pasar pada hari-hari tertentu.
"Pernah juga ada yang ganti pakaian di sebuah Masjid di Karangkajen. Mereka datang ke pasar yang ramai pada hari tertentu seperti pasaran legi, kliwon dan sejenisnya," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kiper PSIM Jogja Cahya Supriadi resmi dipanggil memperkuat Timnas Indonesia di ASEAN Championship Hyundai Cup 2026 usai menerima surat dari PSSI.
Kebakaran melanda Pasar Modern BSB Semarang. Diduga dipicu kebocoran tabung gas di warung soto, sebanyak 179 kios terdampak.
Cuaca ekstrem dan angin kencang membuat hasil tangkapan nelayan di pesisir selatan Gunungkidul turun hingga separuh dalam beberapa hari terakhir.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuding Rusia berencana mendatangkan 30.000 tentara Korea Utara dan menambah kerja sama militer dengan Pyongyang.
Sebanyak 2.000 warga Magelang menebus sembako murah dari PSMTI. Program sosial ini membantu meringankan beban masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Kebakaran lahan kembali melanda Wukirsari, Bantul. BPBD mencatat 62 kasus kebakaran hingga 22 Juli 2026, mayoritas dipicu aktivitas manusia.