WISATA JOGJA : Promosi ke Luar Negeri Andalkan APBN

JIBI/Harian Jogja - Desi Suryanto Ilustrasi
25 Oktober 2016 06:20 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Wisata Jogja, jumlah turis asing mengalami peningkatan.

Harianjogja.com, JOGJA -- Setelah dihapusnya jatah dana APBD untuk promosi wisata ke luar negeri, DIY hanya mengandalkan kucuran dana APBN untuk keperluan promosi wisata ke luar negeri.

Kepala Seksi Promosi Dinas Pariwisata DIY Putu Kertiyasa mengatakan dana promosi untuk media pameran ke luar negeri sebesar Rp1,5 miliar dari APBD untuk 2016. Namun, mulai tahun depan, dana promosi ke luar negeri hanya menggunakan APBN.

"Dari APBN untuk perjalanan ke luar sebesar Rp200 juta untuk ke Berlin, Jerman. Dana APBD untuk promosi lokal saja," ujar dia kepada Harianjogja.com beberapa waktu lalu.

(Baca Juga :http://cms.solopos.com/?p=761717"> WISATA JOGJA : Peringkat DIY Turun ke Posisi Ke-6, Ada Apa?)

Promosi merupakan hal yang penting. Di satu sisi, jumlah wisatawan asing harus bisa meningkat di setiap tahunnya. Di sisi lain, jalannya promosi seperti terhambat karena pemangkasan biaya promosi dari APBD.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta mengungkapkan, target wisatawan termasuk wisatawan asing selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu sejalan dengan semakin banyaknya destinasi wisata di DIY dan infrastruktur yang semakin baik.

"Tahun ini sepertinya bisa ke angka 380.000 untuk wisatawan asing. Tahun depan 450.000 wisman. Harus berani," papar dia.

Untuk mencapai hal tersebut, minimal pemerintah bisa mempertahankan promosi ke luar negeri. Promosi merupakan hal yang penting karena bisa meyakinkan wisman yang menjadi sasaran akan potensi yang ada di Indonesia. Diharapkan, promosi ke negara-negara yang menjadi pasar potensial tidak sampai kosong. Promosi yang baik dilakukan secara berkelanjutan dan tidak terputus.

"Tapi, tahun depan, promosi ke luar negeri tidak ada alokasi dari APBD, tapi pakai APBN saja. Ini mungkin karena keterbatasan dana sehingga dana APBD tidak ada untuk promosi. Jadi, ada negara yang jadi kosong," ungkap dia.

Adapun negara yang potensial yakni Jepang, Malaysia, Vietnam, Singapura, Thailand, Eropa, Australia, dan Amerika. Kunjungan dari Australia dan Amerika mengalami peningkatan. "Dulu masih didukung APBD sehingga semua negara tercakup. Tapi, sekarang mengandalkan APBN saja. Secara teori, jumlah kunjungan pasti akan terpengaruh [menurun]," kata dia.