Didemo Warga karena Kasus Pungli, Kades Dadapayu Akhirnya Lengser

Warga Desa Dadapayu, Semanu memprotes dugaan pungutan liar yang dilakukan kepala desa setempat. Protes yang dituliskan di spanduk dipasang di balai desa setempat, Senin (17/10/2016). (Bhekti Suryani/JIBI - Harian Jogja)
25 Oktober 2016 14:31 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Kepala Desa (Kades) Dadapayu, Semanu, Gunungkidul akhirnya mundur dari jabatannya

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Kepala Desa (Kades) Dadapayu, Semanu, Gunungkidul akhirnya mundur dari jabatannya, setelah ratusan warga menggeruduk balai desa setempat pada Senin (24/10/2016). Warga memprotes kasus pungutan liar (pungli) yang dilakukan kepala desa.

Ratusan warga Desa Dadapayu, Semanu, kembali menggeruduk balai desa setempat pada Senin siang. Mereka melanjutkan protes mengenai pungli yang dialakukan Kepala Desa Rukamto terhadap lima kepala dusun yang baru dilantik.

Protes yang digelar di tengah hujan deras mengguyur balai desa tersebut merupakan kali kedua. Sebelumnya pada Minggu (16/10/2016) lalu, ratusan warga juga menggeruduk balai desa menuntut Rukamto mundur dari jabatannya.

Ia dituduh memungut uang masing-masing senilai Rp5 juta pada lima orang kepala dusun yang baru dilantik. Pungutan itu tidak memiliki dasar hukum. Pada protes yang kedua, Rukamto hadir di tengah warga. Ia menyatakan permohonan maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.

“Kami [saya] minta maaf yang sebesar-besarnya karena kami sangat khilaf. Mohon kami diberi kesempatan untuk tidak mengulanginya lagi,” ungkap Rukamto, Senin di Balai Desa Dadapayu. Namun permohonan Rukamto agar tetap menjabat sebagai kepala desa ditolak warga.

Seluruh warga dengan tegas meminta Rukamto mundur alias lengser. “Pungli ini sangat tidak punya hati nurani. Kami minta penegasan, kepala desa mundur hari ini juga,” ungkap Padi salah seorang warga yang disambut teriakan ratusan warga lainnya.

Herman, warga lainnya mengatakan, sebanyak 19 dusun dari total 20 dusun di Dadapayu telah membuat pernyataan agar Rukamto berhenti dari jabatannya.

“Kami mohon bapak mengundurkan diri secara legowo. Kami sayangkan kepala desa melakukan hal seperti itu. Padahal sekarang, presiden saja gembar-gembor memberantas pungli,” tutur Herman.

Menghadapi tekanan warga yang terus berteriak selama pertemuan Senin siang, Rukamto meminta waktu setengah jam keluar ruangan untuk berembug dengan keluarganya beserta Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Hasil rembug tersebut, Rukamto meminta diberi waktu lebih lama dalam memutuskan tuntutan warga. Namun desakan agar ia mengundurkan diri hari itu juga terus bergulir.

Tak berselang lama, Rukamto diwakili Ketua II BPD Wagiman akhirnya menyatakan kesediaannya untuk mundur. Ia sendiri tidak muncul ke pendapa balai desa saat ikrar pengunduran diri disampaikan lewat BPD. Hanya BPD dan isterinya yang menghadapi ratusan warga tersebut.

“Pak Rukamto bersedia mengundurkan diri. Surat pengunduran dirinya akan disampaikan ke bupati dalam satu dua hari ini,” kata Wagiman disambut tepuk tangan warga.