BULOG JOGJA : Stabilkan Harga, Jaringan RPK Terus Ditambah

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh (kiri) memantau RPK yang ada di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) didampingi Ketua Perum Bulog Divre DIY Miftahul Adha (tengah), dan Ketua STPP Magelang Ali Imran (kanan). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
30 Oktober 2016 07:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Bulog Jogja terus menambah outlet pangan.

Harianjogja.com, JOGJA -- Perum Bulog Divre DIY terus menambah jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) baik di kalangan rumah tangga atau perorangan maupun kalangan instansi. Sampai saat ini, sudah ada 235 outlet RPK di DIY.

RPK merupakan outlet pangan yang dimiliki Bulog. Salah satu RPK di lingkungan instansi yang baru saja diresmikan adalah RPK Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) yang ada di koperasi STPP Jl. Kusumanegara No2 Jogja. RPK yang dikelola oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ini diresmikan langsung oleh Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh, seusai mengisi program BUMN Mengajar di sekolah tinggi tersebut, Jumat (28/10).

“RPK bukan milik Bulog tetapi milik masyarakat. Pelaku RPK bisa menjual sesuai harga eceran tertinggi [HET] yang sudah ditentukan dan masyarakat bisa membeli kebutuhan dengan harga yang terjangkau,” katanya pada wartawan.

Beberapa komoditas yang disediakan di RPK antara lain beras premium Rp10.000 per kg, gula pasir Rp12.500 per kg, minyak goreng, tepung terigu, dan masih banyak lagi. Bahkan, RPK juga siap menyalurkan daging sapi.

Harga yang ditawarkan Bulog di RPK lebih terjangkau dibandingkan harga komoditas bahan pangan di pasaran. Oleh karena itu, kata dia, keberadaan RPK ini berfungsi untuk menstabilkan harga. Seperti halnya saat gula pasir di pasaran mencapai Rp16.000 per kg, Bulog bisa menjual hanya Rp13.000 per kg.

Ia menargetkan jumlah RPK di seluruh Indonesia bisa mencapai Rp10.000 outlet. “Saat ini sudah terealisasi 3.500,” katanya.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Divre DIY Miftahul Adha menambahkan, bahwa RPK tidak hanya menyasar untuk kalangan perorangan tetapi juga kalangan instansi. Beberapa instansi yang sudah memiliki RPK selain STPP adalah Kantor Pos Besar Indonesia Cabang Jogja.

Dalam kesempatan program BUMN Mengajar, Wahyudi berharap akan ada mahasiswa STPP yang bekerja menjadi penyuluh pertanian untuk Bulog. “Bulog bertugas dari hulu ke hilir sehingga Bulog butuh SDM,” katanya.