TRADISI JOGJA : Ini Makna Saparan Bagi Warga Gondolayu

Ogoh-ogoh untuk memperingati saparan disiapkan warga Gondolayu, Jogja. (Ujang Hasanudin/JIBI - Harian Jogja)
28 November 2016 09:55 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Tradisi Jogja berupa Saparan masih dilestarikan Gondolayu.

Harianjogja.com, JOGJA -- Ratusan warga Gondolayu, Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, menggelar acara Saparan, Minggu (27/11/2016) sore. Dalam acara tersebut warga mengarak ribuan kue apem dan lemper dalam bentuk gunungan.

(Baca Juga : http://cms.solopos.com/?p=772226">TRADISI JOGJA : Saparan, Warga Gondolayu Arak 1.000 Apem dan Lemper)

Ketua Paniti Acara Saparan, Muh Mahrus mengatakan tradisi saparan bagi masyarakat Jawa, khususnya Gondolayu sudah lama diperingati. Sebagian masyarakat mempercayai dalam bulan Sapar atau bulan setelah Muharrom dalam kalender Hijriah merupakan bulan keramat. Masyarakat kemudian melakukan berbagai ritual tolak balai untuk menghindari bencana.

Disamping doa-doa juga memperbanyak sedekah kepada orang lain. Karena itu setelah apem dan lemper dikirab keliling kecamatan, gunungan apem dan lemper itu diperebutkan oleh warga tepat ketika sampai Gondolayu Lor.

"Gunungan apem ini sebagai wudud dari simbol sedekah dari masyarakat untuk masyarakat sebagai simbol tolak bala," katanya. Sementara Ogoh-ogoh dibakar di lokasi yang sama.

Mahrus mengatakan yang membuat apem dan lemper adalah warga dan kembali kepada warga sebagai wujud saling berbagi. Adapun ogoh-ogoh atau manusia raksasa yang disimbolkan sebagai kemurkaan dan hawa nafsu dibakar dengan harapan manusia bisa menghilangkan amarah dan hawa nafsu.

Menurut Mahrus, Tradisi apeman sudah lama dilakukan warga Gondolayu, tetapi sejak 2010 lalu tradisi apeman dikemas dalam budaya kirab saparan sebagai sarana penunjang pariwisata. Seiring waktu tradisi kirab apeman pun banyak diikuti oleh warga, tidak sedikit wisatawan yang menyaksikan kirab apeman tersebut.

Meski suasana dalam keadaan hujan, tidak menyurutkan warga Gondolayu menggelar kirab apeman tersebut. Sebagian besar pengiring kirab mengenakan pakaian adat jawa.