INFRASTRUKTUR BANTUL : Amphitheatre Rp400 Juta Terbengkalai

Proyek panggung terbuka (amphitheatre) Sono Seneng yang mangkrak (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
29 November 2016 02:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Infrastruktur Bantul, masih ada yang mangkrak.

Harianjogja.com, BANTUL -- Proyek panggung terbuka (amphitheatre) Sono Seneng senilai Rp400 juta yang berada di Desa Wisata Srikeminut, Dusun Kedungmiri, Desa Sriharjo mangkrak. Kondisi panggung yang berbentuk tiga perempat lingkaran seluas 2.000 meter persegi kini memprihatinkan. Rumput yang tinggi, tanah becek, dan lumut yang tumbuh di sana-sini membuat aset wisata yang sejak 2015 lalu diserahkan oleh Pemerintah DIY kepada Dusun Kedungmiri itu tampak kumuh.

(Baca Juga : http://cms.solopos.com/?p=772230">INFRASTRUKTUR BANTUL : Baru Berdiri 2014, Begini Kondisi Kolam Renang di Mancingan)

Anton, Ketua Karang Taruna Sedya Bhakti Desa Sriharjo mengatakan, tak terurusnya aset wisata itu disebabkan kurangnya kepekaan masyarakat terhadap potensi wisata yang ada di wilayah mereka. Padahal, ia berharap banyak pada potensi wisata alam di kawasan tersebut.

Begitu pula dengan pemuda dusun. Ia mengaku, karang taruna di tingkat pedukuhan Kedungmiri pun sudah beberapa tahun terakhir vakum.

“Baru tahun ini, kami coba aktifkan kembali mereka, dengan cara mengikutsertakan mereka dalam kegiatan seni HUT Sriharjo. Kami pun sekarang tengah menyiapkan jalur baru untuk wisata treking melintasi daerah Kedungmiri,” katanya saat ditemui di lokasi, Senin (28/11/2016) siang.

Ia menambahkan, sejak diserahkan pertama kali, tercatat hanya ada dua event pariwisata yang digelar di panggung terbuka itu. Pertama adalah Festival Sewu Kitiran 2015, dan acara pentas seni salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja.

Tahun ini, acara Festival Sewu Kitiran sebenarnya hendak digelar di kawasan itu. Namun lambannya respon masyarakat terhadap rencana itu membuat pihak panitia mengalihkan lokasi acara ke Dusun Sompok yang terletak beberapa kilometer dari Dusun Kedungmiri.