BENCANA BANTUL : Kali Oya Meluap, Jembatan Nambangan Ditutup

Warga melintasi Jembatan Nambangan yang ada di Dusun Nambangan, Seloharjo, Pundong, Bantul, Rabu (13/7/2016). Meskipun sudah pernah ditutup oleh pemerintah karena kondisinya yang rusak dan berbahaya namun masyarakat kembali membuka jembatan ini untuk kepentingan warga sekitar.(Yudho Priambodo/JIBI - Harian Jogja)
30 November 2016 11:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Bencana Bantul berupa luapan air di Sungai Oya mebuat jembatan Nambangan ditutup

Harianjogja.com, BANTUL-Tak hanya longsor yang mengepung kawasan perbukitan, Sungai Opak, salah satu sungai besar yang membelah wilayah Bantul juga mengalami luapan.

Akibatnya, jembatan Nambangan yang berlokasi di Desas Seloharjo, pun terancam ambruk. Saat ini, warga sekitar menutup akses jembatan tersebut guna menghindari korban.

Ngamari, salah satu warga sekitar jembatan itu mengatakan, kondisi jembatan yang melintas di atas tempuran (pertemuan dua sungai) Sungai Oya dan Sungai Opak itu kini memang membahayakan jika harus dilintasi kendaraan bermotor roda dua dalam intensitas tinggi.

Derasnya arus sungai yang menghantam tiang peyangga membuat goyangan jembatan tinggi pun demikian saat ada beberapa motor lewat goyangan semakin tinggi tak seperti biasanya.

“Berbahaya jika dilewati, akhirnya kami tutup sementara. Kami tidak mau mengambil resiko,” ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi, Selasa (29/11/2016).

Ia menambahkan, selain hantaman arus sungai dengan ketinggian 6 hingga 7 meter tersebut, jembatan itu pun sepertinya juga tak kuat menahan terpaan material yang dibawa oleh arus sungai, seperti batang kayu dan ranting-ranting pepohonan. Rencananya, jembatan itu baru akan dibuka kembali jika kondisi arus sungai benar-benar terpantau aman.

Kendati kondisinya cukup membahayakan, pemerintah diakuinya hingga kini belum ada tanda-tanda untuk bersikap. Ia mengakui, pihak pemerintah sebenarnya sudah pernah berbondong-bondong melakukan inspeksi terhadap kondisi jembatan yang menghubungkan wilayah Nambangan, Desa Seloharjo dan Nangsri Desa Srihardono itu. “Tapi tidak ada tindak lanjutnya sampai sekarang,” katanya.