KAMPUS JOGJA : UGM Beri Penghargaan Dua Peraih Nobel Dunia

11 Februari 2017 05:20 WIB Jogja Share :

Kampus Jogja memberikan penghargaan

Harianjogja.com, JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada  dua pemenang Hadian Nobel (Nobel Laureates, NL), Jumat (10/2/2017). Pemberian gelar tersebut menjadi yang pertama kali dalam sejarah UGM.

Gelar Doktor HC UGM tersebut diberikan  kepada Dr. Sir Richard J. Roberts dalam bidang Fisiologi atau kedokteran dan Prof. Sheldon L. Glashow di bidang fisika.

Sir Richard John Robert  dianggap layak menerima gelar kehormatan ini atas prestasi dan dedikasinya pd ilmu pengetahuan dan riset secara global. Karya-karya dinilai  memberikan kesetaran pada layanan sosial dan kesehatan, perdamaian dunia dan pengembangan universitas, khususnya di negara-negara berkembang.

Sedangkan  Sheldon L. Glashow menerima gelar kehormatan karena ketekunannya dalam meneliti konektivitas di alam semesta. Ditahun 1979 menerima Nobel Laureates dalam karya bertema How Basic Science Drives Technological Process.

"Keduanya berkarya bukan untuk mengejar hadiah nobel, namun sungguh-sungguh bekerja agar ilmu pengetahuan yang dihasilkan bermanfaat untuk kemanusiaan," ujar Rektor UGM Dwikorita Karnawati usai memberikan penghargaan itu.

Menurut Dwikorita, karya kedua ilmuwan ini merupakan karya-karya fenomental yang berdampak sangat penting dan luar biasa untuk kepentingan keselamatan manusia. Oleh karena itu, karya-karya yang dihasilkan mampu menginspirasi para peneliti,  baik  peneliti senior maupun peneliti muda.

"Para peneliti muda dan senior, kita harapkan bisa tetap terus gigih mewujudkan karya-karya yang tidak kalah fenomentalnya. Kami juga berharap bisa menindaklanjuti kerjasama dengan keduanya, terutama di bidang molekular biologi", tutur Rektor.

Sementara Sofia Mubarika selaku promotor mengungkapkan Sir Richard John Robert Lahir di Derby Inggris tahun 1943 dia belajar di University of Sheffield bidang Kimia dan kemudian Ph. D tahun 1969. Riset post-doktoral di Harvard University bersama James D Watson, pemenang Nobel. Roberts melakukan banyak riset setelah pindah ke New England Biolabs (NEB)tahun 1992 yang kemudian mengantarkannya mendapatkan penghargaan Nobel bersama koleganya, Phillip Sharp, dalam Fisiologi atau Kedokteran dalam rekayasa RNA dan pembelahan gen.

"Risetnya mengawali revolusi pemahaman struktur dan fungsi  genom bukan hanya di dalam virus dan bakteri tapi juga manusia", ungkap Mubarika.

Mubarika menuturkan kebutuhan bioinformatika untuk memberikan pemahaman akan peran biologi molekuler telah mendorong mengembangkan nomenklatur utk endonuklease restriksi, DNA Metil transferase, homing endonuklease dan gen-gen yg berkaitan di bawah Database Enzim Restriksi (REBASE). REBASE ini menjadi master database bagi akademisi, perusahaan, lab bioteknologi dan komunitas riset perawatan kesehatan. Hal ini pula yang menyebabkan pengurutan genom meningkat drastis sehingga biaya pengurutan DNA pun menurun, berakibat pada ledakan jumlah gen yang dapat diprediksi secara komputasi.

"Untuk mengatasi hal ini, Roberts mengembangkan Combrex, proyek pemodelan molekular secara komputasi, yang berkontribusi pada riset kanker di seluruh dunia", katanya.

Dalam pandangan Mubarika, Roberts adalah juga tokoh terkemuka dalam diseminasi enzim restriksi dan penemuan-penemuan lain. Mengembangkan socio-entrepreneurship, New England Biolabs (NEB) menjadi perusahaan pertama yang menjual enzim restriksi di dunia, dan hasilnya dipakai untuk mendanai banyak riset.

Pada akhirnya NEB tetap menjadi perusahaan swasta yang independen yang mendukung lembaga-lembaga akar rumput, menjaga diversitas biologi dan budaya, ekosistem, dan mendukung komunitas daerah. Diantara 21 penerima Nobel lainnya, Roberts termasuk yang memiliki perhatian pada perdamaian dunia melalui dialog untuk pendidikan yang berkelanjutan, riset dan pengabdian masyarakat.

"Di Asia Tenggara Roberts membangun hubungan untuk memfasilitasi dan memperkuat dialog antar masyarakat yang berbudaya beragam agar terbangun perdamaian. Dengan Nobel yang ia terima terus membangun kerjasama berkelanjutan antar universitas  yang diharpkan menghasilkan program riset bersama demi pendidikan dan layanan yang lebih baik", paparnya.