Pertahankan Camat Pajangan yang Sempat Ditolak Warga, Bupati Bantul Dikirimi Karangan Bunga

Salah satu warga yang tengah melintas sempat mengabadikan salah satu karangan bunga di depan Parasamya, Kompleks Kantor Bupati Bantul, Selasa (2/5/2017). (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
03 Mei 2017 05:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Keberhasilan Bupati Bantul Suharsono dalam mempertahankan Yulius Suharta sebagai Camat Pajangan diapresiasi

Harianjogja.com, BANTUL--Ada yang tak biasa di Parasamya, kompleks Kantor Bupati Bantul, Selasa (2/52017). Tiga buah karangan bunga berukuran besar ada di sana.

Ketiga buah karangan bunga bertuliskan ‘Selamat dan Sukses Telah Menegakkan Pancasila dan UUD 1945’ itu merupakan karangan bunga yang sengaja dikirimkan oleh sejumlah komunitas sosial.

Diduga kiriman karangan bunga ini dilatarbelakangi keberhasilan Bupati Bantul Suharsono dalam mempertahankanhttp://m.harianjogja.com/?p=784917"> Yulius Suharta sebagai Camat Pajangan setelah adanya http://m.harianjogja.com/?p=784941">penolakan dari sejumlah kelompok.

Koordinator Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Ernawati ditemui di Komplek Parasamya Bantul mengungkapkan, komunitasnya adalah salah satu yang menginisiasi kiriman karangan bunga itu. Diakuinya, Mafindo Pusat di Jakarta selama ini memantau pergerakan Bupati Bantul dalam kasus Camat Pajangan yang sarat dengan isu sara tersebut.

Pegiat komunitasnya mengaku prihatin dengan penolakan Camat Pajangan oleh sejumlah oknum dengan alasan perbedaan agama. Langkah Suharsono untuk mempertahankan jabatan camat tersebut dinilai sebagai bentuk penegakan asas Pancasila dan UUD 45.

“Di Jakarta dan beberapa kota lainnya, isu SARA pergerakannya semakin masif. Langkah Bupati ini seharusnya menjadi tolok ukur bagi kepala daerah yang lain,” ungkap Ernawati, Selasa (2/5/2017).

Tak hanya lewat karangan bunga, Ernawati yang saat itu juga menemui Suharsono mengaku terus akan mendukung langkah orang nomor satu di Bumi Projotamansari itu dalam melawan sikap intoleran di wilayahnya. Menurutnya Suharsono menjadi salah satu kepala daerah yang mendapatkan perhatian khusus dari pemerhati dan pejuang Pancasila dan UUD 45.

Ia mencontohkan, Komunitas Dodolers 45 Jakarta yang juga mengirimkan karangan bunga kepada Suharsono. Dia menjelaskan bahwa komunitas yang beranggotakan para wanita penggerak Pancasila dan UUD 45 di Jakarta tersebut menyambut baik kebijakan Bupati yang mengangkat pejabat sesuai dengan kinerjanya tanpa memandang agama atau pun sukunya.

Dirinya yang juga merupakan Koordinator Komunitas Anti Hoax ini juga menyatakan bahwa gejala potensi intoleransi yang ada di masyarakat biasanya dengan ditandai banyaknya berita palsu di berbagai media sosial. Ernawati mengaku bersyukur karena Yogyakarta menjadi daerah minim kasus intoleran dibandingkan dengan daerah lainnya.

Meski begitu, menurut informasi dari pegiat anti hoax lainnya Yogyakarta menjadi salah satu daerah penyebar berita hoax tertinggi di Indonesia. “Kalau info yang kami terima, Yogyakarta memang menjadi wilayah dengan penyebar hoax paling banyak, tapi serangannya di isu-isu luar daerah,” imbuhnya.

Terkait hal itu, Bupati Bantul Suharsono berterimakasih atas dukungan masyarakat tersebut. Dia menyebut segala kebijakan yang diambilnya termasuk mengangkat Camat Pajangan tersebut sudah sesuai dengan aturan dan regulasi yang ada. Dalam pengambilan kebijakan pihaknya selalu melihat aspek kinerja dan keberpihakannya kepada masyarakat.

Sehingga ada atau tidaknya dukungan, Suharsono bertekad akan terus membuat berbagai kebijakan pro-rakyat. “Saya tidak pernah melihat agamanya apa atau dia sudaranya siapa, yang jelas kalau kinerjanya bagus lanjut terus,” tegas Suharsono.