200 Lulusan INSTIPER Ini Berperan Besar Terhadap Perkembangan Perkebunan Sawit

Para wisudawan INSTIPER program Pelatihan Teknis Kebun Sawit meluapkan kegembiraan dengan berfoto bersama usai diwisuda di auditorium kampus setempat, Kamis (4/5/2017). (Arif Wahyudi/JIBI - Harian Jogja)
07 Mei 2017 01:20 WIB Sleman Share :

Instiper meluluskan ratusan tenaga kerja perkebunan sawit

Harianjogja.com, SLEMAN - Institute Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta menggelar prosesi wisuda program Pelatihan Teknis Kebun Sawit di auditorium kampus setempat, Kamis (4/5/2017). Wisuda program pendidikan setara D1 itu diikuti 200 wisudawan yang berasal dari 11 provinsi di Indonesia. Program Pelatihan Teknis Kebun Sawit merupakan kerjasama antara INSTIPER dengan Asosiasi Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) lewat gelontoran beasiswa Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit(BPDP-KS).

Kegiatan wisuda ini dihadiri sejumlah tamu undangan di antaranya Hendrajat Natawijaya selaku Direktur BPDP-KS, Anizar Simanjuntak yang menjabar Ketua DPP APKASINDO dan dosen INSTIPER.

Direktur BPDP-KS Hendrajat Natawijaya dalam sambutannya mencoba membesarkan motivasi kepada para wisudawan. Dia memberikan tawaran agar para wisudawan setelah ini melanjutkan ke jenjang lebih tinggi seperti D3 atau S1. Namun apabila enggan melanjutkan pendidikan, dia meminta para lulusan kembali ke kampung halaman untuk memberikan penyuluhan kepada petani kelapa sawit sehingga produksi komoditas perkebunan itu bisa meningkat.

"Hampir semua produk pertanian Indonesia kalah bersaing dengan negara lain kecuali sawit. Sampai dengan tahun 2016 luas perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 11,66 juta hektar yang terdiri dari perkebunan rakyat sebanyak 4,76 jt ha (40,8%). Ironisnya produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat hanya dua hingga tiga  ton CPO hektar per tahun," ujarnya di hadapan para wisudawan.

Padahal menurut dia perkebunan besar swasta sudah mencapai enam juta ton/ha/tahun. Maka dari itu, para lulusan program program Pelatihan Teknis Kebun Sawit ini diharapkan bisa kembali ke daerah untuk memberikan penyuluhan kepada petani sawit sehingga hasil perkebunan tersebut lebih melimpah.

Dalam kesempatan itu Rektor INSTIPER Purwadi juga dengan semangat memberikan penekanan motivasi kepada para wisudawan. Purwadi menjabarkan manajeman perkebunan rakyat yang baik membutuhkan tata kelola kelembagaan yang baik, yaitu koperasi petani maupun kelompok tani yang terkelola dengan baik. Hal ini membutuhkan dukungan SDM yang kompeten.

Menurut rektor, pengembangan SDM perkebunan rakyat membutuhkan kompetensi yang berbeda dengan penyiapan SDM kompeten bagi perusahaan, karena tantangannya bukan hanya terkait dengan kompetensi teknis agronomis semata tetapi juga terkait ekonomi koperasi, sosial dan sustainability. Oleh karenannya perlu didisain secara khusus berbeda dengan pengembangan SDM untuk perusahaan besar. Apalagi Sarjana Pertanian dengan kompetensi bersifat umum tentu kurang cocok dengan kebutuhan kompetensi untuk pembangunan perkebunan rakyat.

Selain itu juga, jelas dia,  dibutuhkan sarjana dengan kompetensi khusus koperasi perkebunan untuk mengelola koperasi perkebunan, agar tata kelola perkebunan rakyat bisa dilakukan secara profesional.  Untuk operasional lapangan kita perlu menyiapkan SDM setingkat Diploma untuk membantu operasional Asisten setingkat Sarjana.

"SDM Diploma ini juga perlu disiapkan secra khusus dengan kompetensi untuk membimbing dan atau mengkoordinasikan pekerjaan di perkebunan rakyat," ujar Purwadi.

Purwadi lebih lanjut menjelaskan, Program program Pelatihan Teknis Kebun Sawit tersebut telah dimulai Agustus 2016 lalu dan berakhir tanggal 5 Mei 2017z. Semua materi, praktek kerja lapangan baik di perusahaan maupun koperasi serta uji kompetensi sudah dilaksanakan dengan baik dan lancar.Harapan kedepan para putra-putri petani kelapa sawit akan dapat menjadi kader-kader perkebunan kelapa sawit rakyat berkelanjutan.