Lingkungan Pekerjaan Berisiko, Pemasar Koran Perlu BPJS Ketenagakerjaan

Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono menyampaikan sambutan dalam sosialisasi Jaminan Kerja Mandiri BPJS Ketenagakerjaan di aula Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan, Sabtu (6/5/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
09 Mei 2017 03:22 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

BPJS Ketenagakerjaan perlu diakses pekerja informal.

Harianjogja.com, JOGJA -- Agen pemasar koran bekerja dalam lingkungan yang penuh dengan risiko. Oleh sebab itu mereka perlu menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan agar bisa mengover seluruh biaya yang dibutuhkan jika terjadi kecelakaan kerja atau bahkan kematian.

Menyadari akan pentingnya hal tersebut, Harian Jogja bekerja sama dengan Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Yogyakarta menggelar Sosialisasi Jaminan Kerja Mandiri BPJS Ketenagakerjaan untuk para agen pemasar koran Harian Jogja di aula kantor pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Cabang Yogyakarta, Sabtu (6/5/2017).

Kepala Bidang Pemasaran Bukan Penerima Upah (BPU) BPJS Ketenagakerjaan Uus Supriyadi mengatakan, program BPJS Ketenagakerjaan penting untuk disampaikan karena menyangkut kesejahteraan para agen pemasar koran.

"Misalnya sudah punya tabungan tapi terjadi risiko [kecelakaan kerja] maka [biaya perawatan] akan menguras tabungan. Tapi dengan ikut BPJS Ketenagakerjaan akan mengurangi beban," katanya.

Ia mengatakan, sampai saat ini jumlah peserta mandiri aktif hampir mencapai 15.000 orang. Namun jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY yang menunjukkan bahwa 60% dari 3 juta pekerja di DIY adalah pekerja mandiri (informal) seperti para agen pemasar koran tersebut, angka 15.000 peserta masih sangat kecil. “Artinya masih banyak potensi untuk menjadi peserta mandiri. Maka upaya kita lebih agresif untuk memberikan sosialisasi tentang BPJS ketenagakerjaan mandiri,” katanya.

Dari sisi iuran per bulan menurutnya tidak terlalu membebani peserta. Untuk penghasilan Rp1 juta per bulan, peserta hanya membayar Rp16.800 untuk dua program yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Jika peserta ingin menambah program Jaminan Hari tua (JHT) juga dapat menambah iuran Rp20.000 per bulan dan bisa diambil saat mereka berhenti bekerja.

Ia menyadari, seorang pemasar koran memiliki tingkat risiko yang besar terhadap pekerjaannya. Mereka bekerja  dini hari sehingga potensi mengantuk sangat besar. Selain itu, mereka juga selalu melintasi jalan raya sehingga dalam kondisi masih mengantuk sangat rentan terhadap kecelakaan.

“Harapan kami mereka jadi peserta karena akan mengurangi beban keluarga ketika terjadi risiko. Semua pembiayaan ditanggung sesuai kebutuhan medis,” kata Uus.

Pola pelayanan juga tidak lewat rujukan tapi langsung ke rumah sakit yang dituju. Saat ini hampir semua rumah sakit sudah bermitra dengan BPJS Ketenagakerjaan sehingga memudahkan peserta saat ingin mendapatkan penanganan.

Ketua Himpunan Pemasar Media Cetak Yogyakarta Muchyidin Zaenudin mengatakan, setelah acara sosialisasi ini, pihaknya akan mendorong seluru pemasar media cetak di DIY untuk mendaftarkan diri menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

"Kalau di jalan terkena halangan bisa tercover. Masalahnya kalau mengandalkan santunan dari penerbit itu tidak seberapa tapi kalau BPJS Ketenagakerjaan bisa mengcover semuanya," katanya.

Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono mengatakan, para agen pemasar koran adalah mitra Harian Jogja. Agar para agen pemasar bekerja dengan tenang, Harian Jogja memfasilitasi sosialisasi tentang BPJS Ketenagakerjaan sekaligus mendaftarkan para pemasar koran tersebut menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

"Ini bentuk perhatian kami," katanya.

Selain itu, Harian Jogja juga mendaftarkan 30-an pemasar koran menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan sekaligus memberikan subsidi selama tiga bulan.